PERKEMBANGAN EMOSI
Bagaimana pandangannya merupakan sekelompok dan apa yang dmaksud semuanya. Dimana norma-norma mengatakan bahwa bagaimana actor memperlakukan keberadaan roh, Tuhan-Tuhan, dan manusia, kebudayaan mengatakan actor roh, Tuhan-Tuhan dan manusia apa dan tentang apa semua itu.
Kebudayaan dan Emosi
Di sini saya akan mengatakan tentang bagaimana kebudayaan mempengaruhi emosi dan meningkatkan kepopuleran pandangannya, yang mana memberi bantuan yang lebih kongkrit cara memahami variable kerja kebudayaan. Mari kita mulai dengan Bagaimana.
Bagaimana Pengaruh Kerja Kebudayaan
Kunci untuk mempengaruhi kebudayaan yang di bentuk dan perbedaan maksud yang lebih memperoleh pengembangan mata pelajaran psikologi. Karena maksud-maksudnya, orang sampai pada pandangan dari setiap dijumpai dengan lingkungan untuk memahami apa yang sedang terjadi dan untuk merespon menurutnya., bahkan jika mereka tidak dapat mengatakan siapa yang memandu respon-respon mereka. Saya menguasai beberapa Bab dari Bab 5 ini ketika saya menganggap pertentangan antara factor-faktor biologi dan kebudayaan sosial dalam proses emosi.
D’Andrade (1984) telah menawarkan uji peneliatian dari dua cara yang bertentangan dari tinjauan cara kebuyaan mempengaruhi orang yang bersosialisasi. Di satu pihak, ini menyatakan bahwa orang merasa tertekan untuk mengikuti perintah kebudayaan. Ini mengartikan kebudayaan dalan sebuah cara Skinnneran sebagai sebuah kelompok tuntutan dari luar, yang mana sebagai Spiro (1961) telah menunjukkan sebuah ketidak individuan (akhirnya dia mengatakan “antipsychological”) posisi karena pendapat yang menguatkan norma-norma kebudayaan semata-mata merupakan hasil dari sangsi masyarakat eksternal dan bukan hasil dari dorongan dari dalam untuk mengadu. Sebaliknya teori, yang lebih mumusatkan secara pskologi dan keindividuan, merupakan kekuatan dari kelangsungan yang lebih eksternal yang yang seorang individu timbulkan., pada bagian ini, dari keinginan untuk menyesuaikan diri untuk melakukan apa dan mengatakan apa.
Alfred Adler (1927) akan menekankan di awal tulisannya, respon pertama kitamerupakan panitia masyarakat yang mana sebagai seorang anak dan remaja kita semua berharap dan membutuhkan permulaan dan mendorong orang tua untuk mempertahankan hidup dan hidup dengan subur. Dalam tulisannya selanjutnya, walaupun demikian, Adler mengubah penekanannya untuk munjelaskan pylogenetic seperti sisiobiologis moderen., yang mana menunjukkan nilai penyesuaian diri dari keinginan bawaan lahir untuk bersama dengan yang lainnya, karena pertahanan hidup difasilitasi oleh penambahan kekuatan yang di kembangkan oleh sebuah kelompok.
Teori pertama tentang sangsi sebagai pendorong utama tak sempurna, karena sumber dariluar dari kekuatan pada diri mereka mengoprasikan sepanjang kesuksesan mode pengaturan masyarakat, dan ketika mereka melakukan, ini waktu yang paling umum masyarakat secara luas, korupsi politik, dan ketidak fungsian. Keberadaan iklim di dunia kita, seperti kita mendekati abad ke 21, ada seorang pengunjuk rasa luarbiasa dari jangka waktu panjang lebih memaksa kekuatan di bagian orang-orang Eropa tengah di mana menyerukan dengan suara keras untuk kebebasan, dan demokrasi, dan kemakmuran ekonomi. Hanya satu abad atau awal-awal saja., keruntuhan kerajaan yang angkuh dari Eropa Barat memberikan contoh kegagalan pemerintahan untuk memanifestasi perusahaan yang cukup untuk kebaikan dari kota-kota biasanya. Jika apa yang menjadi saat yang singkat dalam sejarah, atau permulaan dari sebuah perintah dunia baru, kita dapat melihat dengan jelas kegagalan terakhir dari kekutan luar sendiri seperti sebuah cara untuk menghasilakan sebuah keselarasan ketidak persetujuan yang layak, berpikir pada tulisan penolakan Pemerintahan Cina, dan anggota yang lainnya, untuk meninggalkan paksaan oleh lengan, perawatan, dan kerahasiaan polisi-kesementaraan yang kita harapkan-sebuah halangan untuk pernyataan yang tegas.
Keinginan untuk menyesuaikan diri dan mwempercayai kebuadayaan, yang mana sumber utama dari masyarakat dan stabilitas politik, telah ada sedikitnya tiga dasar motivasi: hadiah perseorangan secara langsung, dalam negeri dari sekelompok nilai-nilai kebudayaan yang utama, dan kekuatan kelompok untuk menghukum individu untuk pelanggaran. Criminal merupakan orang yang menyimpang karena jahatnya berdasarkan dari masyarakat karena mereka gagal untuk menginternalisasi nilai-nilai masyarakat.
Kebudayaan berpengaruh pada perkembangan perseorangan menjadi percxaya diri ketika kita membandingkan cara orang berpikir, merasakan, dan perbuatan dalam masyarakat yang berbeda. Ini sulit, meskipun demikian, untuk memisahkan perseorangan dan kebudayaan; kebudayaan hanya dapat diketahui oleh referensi untuk contoh pemikiran, perasaan, dan perbuatan yang di bentuk oleh anggota masyarakat, yang mana dapat dikatakan menjadi sebuah jenis dari kelompok perseorangan. Keterlibatan ketidak setujuan dari alasan yang menyelubungi, maksudnya kita mendefinisikan kebudayaan dengan membentuk cirri-ciri perorangan dari orang-orang itu sendiri dan perseorangan denganreferensi yang berbeda untuk nilai kebudayaan dari dalam negeri.
Dalam memikirkan kembali pemecahan masalah tang baik dari sulitnya mendapatkan perhatian untuk proses sementara di mana seorang anak, lahir dalam sebuah masyarakat dengan kebuadayaan tertentu, memperoleh, dan mengerti kebudayaan dalam negeri. Jika kita memikirkan pola kebudayaan seperti yang ada sebelum anggota masyarakat yang tiba dalam pemandangan, kita dapat memahami cirri-ciri tipe perorangan dari orang yang tinggal dengannya sebagai hasil dari sosialisasi atau akulturasi- maksudnya, seperti akibat dari pertumbuhan, dan menyesuaikan kebudayaan. Meskipun demikian, tanpa belajar dalam waktu lama, ini adalah thesis yang sulit untuk di tingkatkan. Untuk menguji pengaruh kebudayaan pada perkembangan perseorangan dengan data berdasarkan yang kita tuju, celakanya, untuk bergantung hanya pada belajar sekali dari orang-orang yang berbeda kebudayaan (lihat, cotoh, Benedict, 1934, untuk penelitian kebudayaan orang-orang India dari Inggris Barat daya; dan Shweder & LeVine, 1984, untuk yang lainnya, penelitian paling baru).
D’Andrade (1984, p. 100) menawarkan mengikuti ringkasan analisisnya dari masalah kebudayaan dan perseorangan, yang mana ekspresi yang baik milik kita sebagai berikut:
Posisi umum yang ada di sisni merupakan maksud yang melibatkan jumlah fisik manusia, bukan hanya bagian dari kita yang mengetahui sesuatu. Setiap aspek maksud system-sistem diperoleh dengan proses psikologi terbaik dan sering prcobaan utama. Itu menhabiskan beberapa tahun pembelajaran untuk seorang anak untuk memperoleh keberadaan kembali fungsi-fungsi maksud system tersebut. Pnghadiran kembali terjadi hanya karena symbol-simbol mengaktifkan proses psikologi secara komplit. Pada cara yang sama, itu menghabiskan beberapa tahun pembelajaran untuk seorang anak untuk memperoleh pengembangan, kelangsungan fungsi-fungsi system yang di maksud, dan fungsi-fungsi ini juga memperoleh proses psikologi secara komplit. Penghadiran kembali, penyusunan, dan kelangsungan fungsi-fungsi masing-masing pengaruh dari cara otak orang mengorganisasikan, kemampuan biological dan psikological yang tinggi yang dirangsang oleh maksud system kebudayaan.
Bagaimana melakukan kebudayaan berdasarkan pengaruh maksud system pemahaman individu kita dari hubunnujugan manusia? Untuk membantu menjawab ini, D’Andrade mengasilkan kembali sebuah cerita sederhana dari Schank dan Abelson (1977). Menduga satu bacaan sebagai berikut: “Roger ingin ke rumah makan. Dia memesan coq au vin. Penunggu tentu saja dan menuju meja sebelah kanan selanjutnya membayar dengan kes. Roger mendapatkan tip”(D’Andrade, 1984, p. 103). Sekarang pembaca harus menjawab beberapa pertanyaan tentang perubahan sosial dalam cerita, seperti “Apa yang Roger makan? Kepada siapa Roger memberi pesanannya? Di mana Roger duduk? Apakah Roger suka rumah makan? Untuk apa tip itu?”.
Menurut Schank dan Abelson, D’Andrade menunjukkan bahwa tah ada jawaban yang jelas mengenai cerita itu. Belum, karena kita mengetahui banyak tentang kebudayaan yang mana terjadi perubahan sosial, pertanyaan yang mudah untuk di jawab. Sebagai contoh, kita mengetahui bahwa seorang pelanggan di sebuah restaurant biasanya menuju ke meja, memberi pesanan untuk penunggu, dan makan apa yang dipesan dan kepuasan atas layanan dapat di tunjukkan oleh sisi tip. Jika penunggu dan sekitarnya tidak menyenagkan, kepuaan merupakan persetujuan dan tempat duduk yang berdampingan untuk pembayaran dengan kesbiasanya tidak memuaskan. Tanpa seperti kebudayaan berdasarkan informasi, banyak cerita yang tidak dapat diterjemahkan. Di lain pihak, cerita merupakan perolehan maksud tanpa penambahan informasi untuk kita yang hidup di berbagai kebuadayaan, karena informasi akan dengan segerakita pahami dan kita mengambilnya untuk sokongan.
Banyak betuk pesan kebudayaan yang dioperasikan dalam kesimpulan kita ampu untuk menggambarkan dari berbagai konteks sosial dengan yang mana telah kita laksanakan. Pengalaman kita dan pemahaman emosi dalam diri kita dan lainnya dalam situasi sosial pada dasar yang sama. Pengalaman emosi merupakan wujud sebenarnya kebudayaan, dan di berbagai penghormatan berdasarkan pada bentuk umum sebaik maksud pribadi.
Dalam percobaan untuk mendefinisikan pertanyaan tentang bagaimana pengaruh kebudayaan terhadap emosi, K. G.Heider (1991) memulai buku ini pada emosi dalam tiga kebudayaan Indonesia dengan pentingnya sebuah seri pertanyaan dalam belajar kebudayaan dan emosi. Kita berkata tentang bagaimana kebudayaan mempengaruhi emosi and meneliti perbedaan bahasa memiliki perbedaan kata untuk emosi. Timbulnya pertanyaan seberapa banyak perilaku emosi (dan satu harus ditambah pengalaman emosi) merupakan variable kebudayaan. Seperti contoh, seberapa banyak overlap yang ada ketika Orang-orang Amerika mengguanakan bentuk marah dan orang Indonesia menggunakan bentuk marah – pertanyaan itu muncul sebuah anggota pertanyaan lain tentang bagaimana dengan orang-orang yang berbeda kebuadayaan, berbicara, berpikir, perasaan, dan menunjukkan emosi. Apakah sisi dari suku kata emosi dari kebudayaan ke kebudayaan? Apakah ada keunikan emosi dari kebudayaan? Apakah sebab dari emosi berasal dari satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya? Apakah perbedaan ekspresi muka yang di gunakan untuk emosi yang sama di kebudayaan yang berbeda, dan jika begitu, bagaimana kita memahaminya?
Apa jawaban anthropological untuk pertanyaan Heider tentang bagaimana proses emosi dipengaruhi oleh kebudayaan? Dua cara utama yang telah diusulkan: (1) variable kebudayaan mempengaruhi emosi-emosi yang akan menjadi pengalaman dari maksud seseorang dan arti untuk menawarkan yang baik, yang mana konsekuaen dengan penekananku. (2) variable kebudayaan memepengaruhi bagaimana emosi, satu-satunya yang dihasilkan, apakah aturan dan pengekspresian masyarakat; yang mana konsekuen dengan konsep pertunjukan peranan.
Heider menulis pengaruh jenis pertama, pada proses menghasilkan emosi, seperti pengertian kebuadayaan dari kejadian yang menyebalkan, yang mana hubungan antara kejadian dan reaksi emosi. Pengaruh poin ke dua, anatara status dalan emosi dan penelitian yang datang dari luar dalam tingkah laku dan ekspresi, menerangkan bahwa kebudayaan mempunyai jumlah reaksi atau menunjukkan peranan dan meniru prosesnya yang manadioperasikan antara status dari dalam dan tingkah laku.
Levy (1973) membuat dasar hubungan yang sama tetapi ekspresinya berbeda antara peranan susunan dan peranan keteraturan. Dia telah belajar contoh emosi Tahitians, yang nenunjukkan marah untuk dipertemukan gossip, instruksi untuknya, karena Tahitians berhati-hati dalam marah. Rasa marah ditunjukkan dengan sebuah senyuman, atau ekspresi pura-pura bahagia. Ini menunjukkan gambaran peranan susunan, yang mana Levy cemderung menekan. Tentang itu dia menulis (1973, p. 287):
Doktrin tentang marah dan bengis……mengikuti strategi untuk meniru marah; tak berusaha untuk masuk ke dalam situasi yang akan membuat kamu marah. Jangan menganggap sesuatu dengan serius atau menarik kembali jka memungkinkan. Jika orang lain marah kepada mu, jaganlah berusaha untuk menyuruhnya marah-marah. Jika kamu melakukan dengan kemarahan, bagaimanapun, ekspresinya dengan berbicara denagan kemarahan mu, maka sesuatu dapat di benarkan dan kamu tidak akan marah-marah. Ekspresi kemarahanmu, jika memungkinkan, dengan verbal dari pada maksud fisik. Juka kamu menggunakan maksud fisik untuk menggunakan symbol perbuatan, jangan sentuh orang. Jika kamu menyentuhnya, hati-hatil jangan sakiti dia.
Saya suka peranan sususna dan keteraturan bahasa yang digunakan Heider, dan akan menggunakannya di sini. Levy (1973, 1978, 1984) kelihatnnya percaya bahwa status emosi dalam diri sedikit berbeda dipengaruhi oleh kebudayaan- maksudnya, dengan peranan susunan- karena universal biological. Seperti contoh, kematian seorang anak mungkin diartikan sebagai kesediahan di hamper semua kebudayaan, dan kesedihan biasanya di ekspresikan dengan wajah sedih menangis. Namun, reaksi ini mungkin menurut dengan maksud khusus kebudayaan yang engoprasikan antara kejadian terdahulu dan emosi pengalaman prbadi. Ini merupakan, akibat, pengaruh susunan. Jika, seperti contoh, kematian merupakan kkepercayaan kebudayaan untuk menjadi hasil ilmu sihir, reaksi pribadi menjadi marah dari pada sedih; tetapi jika anak-anak yang telah diambil secara langsung ke surga, kebudayaan berdasarkan maksud menunjukkan kebahagiaan dari pada sedir atau marah.
Saya mempunyai pokok pembicaraan (dalam Bab 5) ketertarikan Levy mengamati tentang kesedihan dan kesalahan seperti “hypocognized” dalam kebudayaan Tahitian dan marah dan perasan malu seperti “hypocognized” Dia membicarakan itu sebagai respon kebudayaan yang bersifat teratur untuk masalah sosial di tempatkan dengan emosi manusia. Emosi-emosi merupakan ketertarikan utama para ahli antropologi karena mereka cenderung bertingkah laku, berpikir, dan system-sistem arti. Di lain kata, untuk Levy emosi tidak banyak di bentuk oleh kebudayaan seperti diri mereka mempengaruhi bagaimana kebudayaan bersama dengan mereka.
Di berbagai cara, tinjauan Levy umum untuk apa yang saya punya di katakana di Bab 5 tentang inti hubungan pembentukan respon emosi, karena mereka merupakan universal biological. Di lain kata, satu-satunya yang kita nilai bahwa identitad ego kita telah dipertinggi, namun, saya juga menerangkan bahwa kebudayan mempengaruhi arti. Peranan biologis selalu dioperasikan, tetapi hubungan antara maksud dari yang dihadapi menekankan pada definisi kebudayaan.
Penelitian antropologi dan pikiran pada emosi baru-baru ini telah di tinjau kembali oleh Lutz dan White (1986). Tentang cara kebudayaan mempengaruhi emosi, pengarang ini menekankan, seperti yang saya lakukan, “bagaimana orang membuat sadar akan kejadian hidup” dari pada lebih dangkal pola perilakunya. Di sebuah instruksi analisis, mereka menyangga empat cara yang memungkinkan dimana maksud kebuadayaan dan memainkan peranan struktur sosial dalam pembentukan emosi.
Ada beberapa pusat susunan peranan dan yang lainnya pada keteraturan peranan:
1. Kebudayaan tentu menekankan masalah kehidupan dan menekankan yang lainnya. Pengarang menunjukkan kesensitifan orang-orang Jepang untuk kelompok sosial seperti sorang peserta pada kesalahannya, pengalaman yang kurang sebagai sebuah perubahan untuk menjadi lebih, dan orang-orang Aameriak utara menitik beratkan pada apa kesalahan yang di katakana tentang satu-satunya karakter.
Contoh-contoh ini memperlihatkan pada ku untuk mengahdirkan kembali susunan perananpembentuk emosi itu sendiri.
2. Pengartian kebadayaan didefinisikan masalah kehidupan dengan teliti- sebagai contoh, apa hubungann bahaya, sesuatu yang buruk telah ada, atau kehialangan, dan jika perawatan merupakan pengaturan. Juga sebuah susunan peranan, saya piker.
3. Perbedaan kebudayaan bersama dengan ketidaktentuan antara kemarahan dari kode sosial dan apa yang akan dihasilkan, itu mendefinisikan apa yang dapat membenarkan marah, takut, dan kekaguaman. Semua orang membutuhkan belajar bagaimana yang lainnya akan merespon untuk bagaimana kita berbuat dan apa yang harus kita katakana dan rasakan. Hochschild (1979) mengatakan ini sebagai “feeling rule”. Kedua peranan ini; mereka harus melakukan dengan perbuatan sosial yang membuat mereka marah, atau bagaimanapun, sebaik ekspresi dan penindasan. Guttfreud (1990) juga mendokumentasikan bahwa ketika orang pendatang dari daerah Spanish berbicara dengan bahasa di daerah mereka, dari pada bahasa Inggris, mereka lebih mengekspresikan emosi dari pada mereka meniru bahasa mereka, secara tidak sengaja berbeda dalam susunan peranan dari masing-masing kebuadayaan.
Dengan mempelajari sembilan kelompok kebudayaan, Triandis et al menemukan sejumlah cross cultural (lintas budaya), perbedaan psikologi yang berasal dari tema tersebut. Sebafgai contoh, integritas keluarga, yang terdiri dari hubungan baik antara orang tua dan anak-anak, lebih tinggi dalam kebudayaan collectivisme; ketergantuangan, berupa bantuan salah satu anggota keluarga ketika sedang dibutuhkan, tinggal dekat dengan rumah temah, dan berinteraksi dengan mereka secara terus menerus lebih tinggi dalam kebudayaan kolektivisme, dan perpidahan dari ingroups lebih sering terjadi dalam kebudayaan individualism. Kepercayaan diri dan hedonism, juga lebih tinggi dalam kebudayaan individualism. Perbedaan nilai terjadi antara orang Amerika dan Jepang, yang ditunjukkan ketika orang Aamerikan mengatakan ban yang berdecit-decit kurang pelumas, namun di Jepang mereka mengatakan bahwa nail sticks out gets pounded down.
Terkait dengan perbedaan individu, individu yang alocentric lebih sering menerima dan mempunyai dukungan social yang lebih baik daripada individu egosentrik, yang dilaporkan lebih senang menyendiri daripada alosentrik. Meskipun penulis tidak mempelajari mengenai emosional secara langsung, dalam dalam hipotesis disebutkan mengenai pengalaman social dalam kebudayaan yang bisa merugikan, dan menghipotesiskan mengenai perbedaan emosional yang relevan dalam kepribadian sebagai hasil internalisasi selektif.
Ada beberapa penelitian kebudayaan dan psikologi yang difokuskan pada perbandingan system arti beberapa kebudayaan. Penelitian ini tidak direview disini, namun perlu disebutkan secara umum. Beberapa contoh dari peneliti yang lain sebagai contoh observasi D’Andrade (1984) mengenai arti keberhasilan dalam kebudayaan Amerika; Rosaldo (1980; 1983) dan yang lainnya difokuskan di Asia dan Amerika (contoh Ausubel, 1955; penelitian dan analisis oleh Marsella, dan kawan-kawan mengenai kebudayaan dan emosi, mementingkan diri sendidi, coping, dan fenomena lainnya, meliputi Marsella, DeVos, & Hsu, 1985; Marsella Kinzie & Gordon, 1973; Marsella, Murray,& Golden, 1974; Marsella & Scheuer, 1988; Marsella, Tharp & Ciborowski, 1979); pengujian sifat malu, salah, kemarahan dan depresi antara orang Jepang dan orang barat, Amerika Kaukasia, Amerika keturunan China, Amerika keturunan Jepang dan Ilongost Jawa; penelitian oleh Hamington, Blumenfeld, Akoh dan Miura (1990) mengenai penerimaan kesalahan antara anak-anak Amerika dan Jepang; review penelitian Ryff (1987) mengenai perbedaan masyarakat, yang terdidi dari Jepang, Amerika, Cina dan India; penelitian kepribadian Church (1987) di Filipina, penelitian Orang Amerika-Asia oleh Sue dan Sue (1987); dan penelitian Florian dan Snowden (1989) mengenai alasan takut akan kematian orang Amerika keturunan Vietnam yang dibandingkan dengan kelompok etnik di Amerika (seperti orang-orang Cina, Meksiko, Orang kulit hitam, orang kulit putih dan orang Yahudi). Mereka menyimpulkanbahwa orang Vietnam mempunyai kecenderungan kehilangan identitas social dan konsekuensi kematian terhadap keluarga dan teman yang lebih banyak daripada kelompok lain, dan hal tersebut berhubungan dengan perbedaan kurangnya arahan dan pemenuhan dalam kehidupan mereka, yang merupakan kondisi mengakar yang disebabkan karena Perang Vietnam.
Shweder (1985) juga melakukan penelitian mengenai pola depresi lintas budaya. Dia menemukan enam aspek penting dalam proses emosi: tipe emosi yang dialami, situasi emosi, kepribadian dan arti social emosi yang dialami, bagaimana emosi diungkapkan, peraturan social mengenai emosi dan penunjukkannya, manajemen emosi yang tidak diungkapkan, atau apa yang telah saya katakana di Bab 3 sebagai emosi yang terfokus atau coping cognitive.
Menurut saya sangat jelas, bahwa kebudayaan merupakan pengaruh yang kuat dalam emosi kita. meskipun demikian, usaha masyarakat untuk mengatur emosi akan memberikan pengaruh, jika tidak maka akan membentuk emosi kemudian ekspresi sosialnya. Mengenai hal tersebut tidak banyak argument yang ditunjukkan. Jika ada, argument tersebut hanya mengenai variable apa dalam proses emosi yang dapat mempengaruhi, dalam hal apa dan seberapa besar. Saya menawarkan sekumpulan sumber logika dan sosiokulturan, dan memberikan beberapa contoh dalam cara yang berbada mengenai pengaruhnya dalam kebudayaan.
Kebudayaan dan Penilaian
Dengan mendiskusikan dan mengilustrasikan cara kebudayaan mempengaruhi kehidupan emosional, penting untuk menghubungkan, apa yang telah dikatakan mengenai proses penilaian dengan penentuan komponen penilaian dalam bab 6 dan 7 untuk setiap emosi individu. Kebudayaan mempunyai pengaruh dalam hal hokum dan peraturan pada tujuan yang ingin kita capai. Meskipun perbedaan mengenai emosi apa yang dialami dari apa yang ditunjukkan sebagai contoh, pembaca akan memahami, sangat sulit (masalah yang saya diskusikan dalam bab 2), saya membuat usaha disini untuk menguji bagaimana kebudayaan mempengaruhi komponen penilaian.
Ada tiga komponen dasar penilaian yaitu tujuan yang relevan, tujuan yang kongruen dan tidak kongruen, dan tipe keterlibatan emosi. Individu tersebut berbeda antara yang satu dengan yang lain, menurut saya kita harus berpikir bahwa kebudayaan mempengaruhi nilai, tujuan dan hirarki tujuan anggota yang memperoleh dan mengespresikannya, meliputi identitas ego mereka.
Jika seseorang menilai bahwa tujuan merupakan sesuatu yang relevan akan tergantung pada hirarki tujuan orangtersebut dan konteks social yang dihadapi. Relevansi tujuan berarti potensi emosi yang kuat. Pertimbangan, sebagai contoh, jika atau dalam hal apa luka atau gejala medis menunjukkan kesehatan yang membutuhkan perhatian media dan mengenai penyakit seperti kecemasan, kemarahan dan depresi. Apa yang kita ketahui mengenai gejala penyakit yang serius akan mempunyai perbedaan yang mencolok.
Meskipun demikian, kita tahu dari perbandingan lintas kebudayaan yang saya diskusikan sebelumnya bahwa orang Yahudi dan Amerika-Italia menganggap sakit dan gejala berbeda dengan pendangan ‘Amerika Kuno’. Belum jelas bahwa sakit menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan bagi orang Yahudi dan Italia daripada Amerika kuno dalam hal konstitusi atau sesuai dengan peraturan. Yang lebih menarik adalah observasi klinis oleh Kleinman (1988), seperti yang disebutkan sebelumnya, arti sakit dipahami dalam konteks riwayat kehidupan seseorang dan signifikansi individumengenai apa yang terjadi dengan nilai, kepercayaa, tujuan hidup dan identitas ego seseorang.
Sebagai tambahan untuk mempengaruhi tujuan relevansi, perbedaan kultur juga mempengaruhi tujuan yang tidak kongruen, sebanyak masalah yang timbul untuk komponen penilaian ini baik penting maupun tidak penting, tujuan tersebut merugikan atau mengancam. Dengan mempertimbangkan contoh lain dari penelitian lintas budaya yang terkait dengan anak-anak Jepang maupun Amerika. Kita melihat bahwa anak-anak Jepang tangkas dalam memahami kemarahan yang ditunjukkan oleh ibunya daripada anak-anak di negara Amerika, yang bagi mereka kemarahan merupakan sesuatu yang biasa. Salah satu tujuannya adalah untuk memuaskannya. Anak-anak Jepang mudah memahaminya sebagai hasil dari komitmen ibu terhadap hubungan simbiosis yang dikembangkan oleh keikutsertaan atau sifat lemah lembut, takut mengecewakan ibunya. Perbedaan kultur (kebudayaan) meningkat dengan adanya komitmen yang kuat dari ibu di Amerika yang mendorong sifat individualistic.
Tipe keterlibatan ego dalam penilaian bayi dan balita di Jepang dan Amerika berbeda sebagai hasil dari pola ciri ego yang menekankan pada dua kebudayaan. Sebagai contoh, perbedaan dua kebudayaan dalam komitmen terhadap individu (pandangan Amerika) versus masyarakat, seperti keluarga atau bangsa (pandangan Jepang). Anak-anak Jepang harus menempatkan egonya lebih rendah dari kelompok; sedangkan anak-anak Amerika harus mengembangkan identitas kemandirian yang mampu bersaing dengan kelompok lain.
Dalam cerita Jepang dimana konflik antara sepasang kekasih dan harapan akan keluarga atau peraturan sosial, akibatnya adalah tragedy percintaan dan penyesuaian dengan masyarakat. Orang-orang Jepang mempunyai perasaan akan kebenaran dan menikmati kemenangan masyarakat terhadap individu. Dalam cerita Euro-Amerika dengan konflik yang sama, banyak pasangan yang membatasi harapan keluarga dan peraturan sosial, dan kita mempunyai perasaan mengenai kebenaran dan menikmati kemenangan individu melawan dunia. Bagi kita, konflik merupakan akhir dari tragedy, seperti dalam cerita Shakespeare Romeo and Juliet serta Leonard Bernstein’s West Side Story. Dari kedua kasus tersebut, masyarakat Jepang dan Amerika, pecinta menjadi ‘bintang’ yang terjebak dalam tragedy yang mereka ciptakan sendiri, symbol masalah dalam masyarakat; bahkan dalam kematian, nilai individu seperti kemenangan dalam adapt Amerika dan nilai masyarakat di Jepang. Konsekuensi dari semua ini adalah bahwa skenario menimbulkan kemarahan atau kecemasan, serta emosi ini direspon oleh orang yang mengalami dan mengamatinya, berbeda antara dua kebudayaan tersebut.
Meskipun saya tidak sadar akan jangka waktu penelitian ini, pemenuhan ditekankan pada anak-anak Jepang yang merasa gelisah daripada marah dalam situasi persaingan individual, sedangkan anak-anak Amerika dalam situasi pertandingan lebih ditekankan pada kemarahan. Perbedaan ini dapat berlangsung baik melalui proses konstitutif maupun proses regulative, atau bahkan keduanya. Sebagai contoh, sangat memungkinkan untuk kedua kebudayaan tersebut menjadi gelisah dan marah, namun orang Jepang merasa tidak nyaman dengan kemarahan dan menekan perasaan tersebut, sedangkan orang Amerika merasa tidak nyaman dengan kegelisahan dan menekan perasaan gelisah tersebut. Kita tidak tahu dalam hal apa pandangan tersebut mengubah emosi yang dialami, atau jika mereka mempengaruhi ekspresi atau penunjukkan.
Analisis yang sama juga dibuat untuk komponen penilaian kedua yaitu kesalahan dan hukuman, potensi coping, dan ekspektasi masa depan, yang juga dipengaruhi oleh kebudayaan baik konstitutif maupun ekspektasi. Sebagai contoh, siapa yang mendapat kesalahan dan diberi hukuman? Meskipun saya tidak tahu perbandingan penelitian secara eksplisit, orang Tahiti (Levy, 1973, 1984), yang waspada terhadap kemarahan dan yang doktinnya menekankan pada penghindaran situasi kemarahan dan agresi fisik, cenderung menghindari kesalahan daripada kita yang ada di Amerika, dimana eksternalisasi kesalahan merupakan sesuatu yang umum. Dan orang-orang Jepang, yang menganggap negatif kebanggaan daripada orang-orang Minangkabau (Heider, 1991). Dengan cara yang serupa, di Jepang orang menghindari pujian salah satu anggota, kita merasa heran bahwa kredit dan pujian disana malah di hindari dalam manifestasi sosial.
Terkait dengan potensi coping, kebudayaan apa yang sesuai yang dapat mempengaruhi pola tersebut dan bagaimana kita menanggapi secara emosional orang lain yang bertindak dengan kita dalam hal constitusi, dan bagaimana kita mengekspresikan emosi yang dapat mempengaruhi peraturan. Pendekatan orang Tahiti dalam kemarahan merupakan contoh yang berguna. Pengasingan kebudayaan adalah untuk mengatasi kemarahan dengan menghindari situasi yang dapat membuat marah, dengan menghina orang lain dan dengan mengekspresikan kemarahan, jika harus namun tidak verbal, bukan fisik. Pernyataan tersebut bagi saya seperti nilai kelas menengah mengenai kemarahan dan agresi, yang diilustrasikan pada bab 1 dengan skenario mengenai bagaimana film Barat berlangsung; ini juga lebih sedikit menerapkan kelas pekerja atau kebudayaan dan sub kebudayaan dengan ideologi laki-laki yang menunjukkan bahwa penting untuk bertindak dengan secara fisik yang agresif untuk mencegah identitas ego seseorang.
Terkait dengan ekspektasi masa depan, kami memperoleh dari kebudayaan sekumpulan kepercayaan mengenai pengaruh pemerintahan di dunia – sebagai contoh, keberuntungan, nasib, Tuhan, kecerdasan dan keterampilan manusia. Ekspektasi ini juga dipengaruhi oleh peraturan dalam masyarakat – ancaman dan sanksi – dan bagaimana mereka bekerja. Dalam kebudayaan dan sub kebudayaan yang menekankan pada takdir (orang-orang Hindu di India, sebagai contoh), kita memperkirakan reaksi emosi yang berbeda terhadap hasil tujuan yang penting daripada kita di kebudayaan industri Barat dengan penekanan pada pengendalian dan tindakan melawan keadaan yang negatif. Di Asia, penolakan material dan orientasi ego sangat ditekankan. Sebagai contoh, ekspektasi masa depan kelompok yang mempunyai kebudayaan pesimistik dibandingkan dengan mereka yang mempunyai pandangan yang optimistic, atau perbandingan antara pandangan Tuhan sebagai hukuman dan semangat atau sebagai ampunan.
Kesimpulannya, meskipun banyak penelitian yang ditujukan untuk penelitian komponen penilaian ini kurang, terdapat penjelasan mengenai latar belakang ekspektasi kebudayaan untuk mempengaruhi keenam komponen penilaian baik dari segi konstitusi maupun regulative. Pengalaman emosional dan karakteristik ekspresi anggota masyarakat berbeda dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Yang paling sulit adalah perbandingan proses emosi terhadap kebudayaan baik yang diketahui maupun yang belum diketahui. Nilai kultur kebudayaan mendefinisikan tujuan – baik pengaruh biologi maupun pengaruh sosial – sebagai konflik yang tidak diterima. Tujuan yang tidak kongruen sebagai contoh, penelitian oleh Freud mengenai seks dan agresi. Hanya sedikit orang yang meneliti secara empiris, karena hambatan interpersonal dan bahasa, sehingga cukup untuk mengetahui mengenai lintas kebudayaan yang diketahui dan yang dilaporkan.
Struktur Sosial dan Emosi
Mereka yang menekankan pada struktur sosial memfokuskan pada perhatian mereka pada fungsi hubungan peran yang ada dalam lingkungan sosial, sebagai contoh, dalam lingkungan kerja atau keluarga, dimana banyak terdapat tekanan, peluang dan ekspektasi sosial. Penelitian pioneer Goffman (1959, 1971) mengenai manajemen pengaruh yang dipusatkan pada peraturan yang dioperasikan dalam beberapa jenis interaksi sosial. Dia mendeskripsikan secara mendetail bagaimana orang mengatur emosi mereka dan strategi yang digunakan untuk menangani emosi tersebut.
Untuk mengetahui pengaruh emosi serta ekspresi emosional, Honchschild (1979) menggunakan kata ‘peraturan perasaan (feeling rules)’ dan ‘kerja emosi (emotion work)’ yang merupakan perluasan dari kata display rules yang dikemukakan oleh Ekman dan Friesen (1969; lihat juga Ekman, 1977). Ini merupakan perluasan karena kata feeling rules didesign dengan penekanan tidak hanya pada cara kita mengatur ekspresi eksternal emosi, seperti ketika orang Jepang berusaha untuk merasa gembira bahkan ketika mereka merasa sedih karena kehilangan seseorang, karena mereka tidak ingin orang lain ikut terbebani dengan kesedihan mereka, namun mereka juga berusaha untuk merasakan apa yang kita rasakan dalam situasi tersebut. Menurut Honcschild, orang ‘psych themselves up’; ‘menghentikan kemarahan mereka’; ‘berusaha untuk gembira’; dan ‘membiarkan mereka untuk merasa sedih’ tanggapan mereka terhadap peraturan perasaan. Inilah yang dimaksud dengan emotion work. Dalam bahasa penilaian, untuk mempengaruhi bagaimana orang mengekspresikan emosi mereka, peraturan perasaan juga mengatur emosi secara langsung dengan cara mempengaruhi bagaimana orang menilai masalah yang dihadapinya.
Peraturan perasaan dan peraturan penunjukkan emosi mempengaruhi emosi kita, khususnya ketika merasa sedih dan juga senang, dan kebalikannya, ketika kita merasa buruk atau lebih baik daripada yang kita alami, atau ketika ita merasa sesuatu yang lama atau sebentar daripada yang seharusnya. Bahkan ketika peraturan tersebut lebih eksplisit daripada implicit, mereka merupakan bagian dari susunan sosial dan sanksi mengenai bagaimana kita menghadapinya, dan juga dalam emosi kita serta ekspresi sosial mereka.
Kita tidak hanya menyesuaikan reaksi kita yang sesuai dengan peraturan sosial, kita juga menginternalisasi peraturan tersebut dan meyakin bahwa sesuatu yang salah merupakan akibat dari kesalahan kita dalam emosi aktual. Oleh karena itu, peraturan perasaan tidak hanya tersituasi namun juga dapat menjadi bagian dari kepribadian kita, yang diterapkan dalam kebudayaan yang berhubungan dengan perkembangan kepribadian. Kadang-kadang terdapat konflik yang dialami oleh orang karena tekanan sosial dipandang sebagai eksploitasi, seperti ketika pramugari atau pramugara atau personil lainnya, diharuskan untuk tersenyum dan ramah kepada customer meskipun mereka sedang merasa sedih. Dalam penekanan eksploitasi economic mereka harus bertindak tidak sesuai dengan apa yang mereka rasakan – terkait dengan konsep Marxian – Hochschild hanya mempertimbangkan efek negatif tekanan sosial.
Bagaimana Struktur Sosial Bekerja
Bagaimana masyarakat, dengan peraturan perasaan, mempengaruhi emosi? Dari hasil penelitian sosial psikologi pada tahun 1930, kita tahu bahwa mengenai tekanan sosial dan bagaimana ini bekerja. Program situasi kerja sosial mengenai bagaimana kita berpikir, merasakan dan bertindak diteliti oleh Sheriff (1935) dengan pengalamannya yang terkait dengan pengaruh autokinetik. Autokinetik berarti perpindahan peraturan diri, kecenderungan berpindah ketika pengamat dapat menyesuaikan posisinya.
Ini dapat dikatakan bahwa jika keputusan ambigu, tekanan sosial gagal dalam memberikan pengaruhnya. Beberapa tahun kemudian Acsh (1952a, 1952b, 1956) melakukan eksperiment inovatif yang mempunyai dampak terhadap penelitian dan teori mengenai pengaruh sosial. Asch membentuk situasi dimana subjek mengatakan tiga perbandingan yang sama dengan standar. Meskipun perbedaan sangat kecil, namun akan meningkatkan keambiguan tugas, Asch memilih untuk membuat tugas yang mudah dan tidak diragukan; ketika tugas tersebut ditunjukan sendiri, subjek tidak membuat kesalahan yang parah. Ini menciptakan kekuatan yang mempengaruhi tekanan sosial.
Dalam eksperimen tertentu, ada sebuah subjek tunggal, dan tiga di antaranya diterapkan; ini diumumkan satu per satu, keputusan yang salah. Bayangkan jika anda sendirian didalam ruangan dengan tujuh teman yang lain; ketika anda menunggu untuk melaporkan apa yang anda lihat, anda mendengar satu per satu orang untuk memberikan keputusan yang sama. Dengan kondisi dibawah keadaan ini, subjek tersebut membuat kesalahan lebih dari tiga kali secara langsung dihadapan kelompok tersebut.
Yang perlu diperhatikan adalah tidak untuk menyamakan pengaruh autokinetik Sherif dengan pengaruh penyesuaian sosial Asch. Dalam penelitian Sherif, ada beberapa alasan untuk meyakini bahwa persepsi subjek yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Dalam penelitian Asch, meskipun subjek sering berjalan bersama kelompok penguji, hanya sedikit bukti yang ada terkait dengan stimulus tersebut; contoh mereka merasa ragu dengan apa yang seharusnya mereka laporkan.
Selama beberapa tahun, sejumlah penelitian dilakukan untuk mengembangkan eksplorasi pioneer pengaruh sosial dan menempatkan pengaruh kondisi tersebut dalam penyesuaian dengan lingkungan yang ada. Berikut ini merupakan ringkasan hasil penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir: hasil tekanan kelompok yang terjadi terkait dengan keputusan yang ambigu, di ungkapkan dalam pernyataan opini atau dalam pernyataan kenyataan. Ini terjadi ketika jawaban yang diberikan kelompok tidak sesuai - sebagai contoh, tinggi orang itu 8 sampai 9 inci lebih tinggi daripada wanita atau bayi laki-laki mempunyai perkiraan hidup 25 tahun. Ini juga terjadi ketika subjek tidak dapat melihat yang lain dalam kelompok, jika diyakini bahwa mereka ada. seperti yang telah diperkairakan, tingkat penyesuaian dapat dikurangi, namun tidak dihilangkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Milgram (1965), yang dipandang sebagai analog regimasi kekuasaan seperti Nazi Jerman. Dalam penelitian ini, subjek mematuhi instruksi eksperimen untuk menyetrum orang lain bahkan jika korban ini menangis dan meminta orang tersebut untuk menghentikannya. Ini menunjukkan bahwa tekanan sosial dapat mendorong orang untuk menerima manifestasi tindakan keji (lihat juga Miller, 1986, dalam penelitian Milgram).
Selama beberapa periode, Newcomb (1943; Newcomb et al, 1967) juga melakukan observasi mengenai perubahan sikap politik sebagai bagian dari siswa di Bennington College. Beberapa orang yang lain melakukan observasi yang sama dengan perubahan sosial yang ada. dengan melakukan pengujian pada laporan pemerintaj mengenai proses keputusan kelompok, Janis (1972) mampu untuk menunjukkan kekuatan dan kerugian penyesuaian tekanan oleh penasehat bertanggung jawab dalam kesalahan kebijaksanaan seperti Invasi Bay of Pigs ke Kuba dan perang Indocina. Janis menyebutnya proses yang menghalangi kelompok untuk menyetujui kebijaksanaan kelompok.
Schachter menemukan bahwa ada tiga jenis hukuman yang dilakukan secara berbeda. Umumnya, kelompok menghukum seseorang yang melakukan penyimpangan. Pada permulaan diskusi, sebagai contoh, kelompok secara langsung melakukan percakapan secara langsung terhadap penyimpangan dan mengakui kesalahan, dalam usaha untuk mengubahnya.
Sebagai bagian dari pengalaman yang sama, masing-masing kelompokdiberitahu bahwa terdapat terlalu banyak anggota bila ingin mengadakan diskusi yang efektif si masa yang akan datang dan masing-masing anggota diminta untuk mengevaluasi setiap anggota lain untuk menentukan demokratisasi yang mungkin dikesampingkan dalam keanggotaan. Kelompok tersebut biasanya cenderung menilai penyimpangan sebagai tindakan yang tidak dapat ditoleransi daripada dua persekutuan, hal ini menyebabkan pengusiran dari kelompok tersebut. Dan ketika panitia yang mengatur membawa bisnis adminstrasi ke dalam kelompok, seperti menentukan topik untuk diskusi, mengumumkan waktu dan tempat pertemuan, dan apa yang disukai, orang yang menyimpang jarang dipilih sebagai orang penting yang mana memegang kekuasaan di tanganya, meskipun mereka seringkali dipilih untuk posisi yang tidak penting dimana hanya tenaga yang dibutuhkan. Penelitian menggaris bawahi bagaimana kelompok social menggunakan kekuasaan mereka untuk menjalankan prasangka kolektif mereka dengan menghukum seseorang yang tidak menurut, memberikan petunjuk tentang motivasi apa yang menyebabkan seseorang untuk menyesuaikan diri dan secara tidak langsung menyarankan kesulitan emosional dalam menahan tekanan untuk menyesuaikan diri.
Bagaimanpun juga, peranan emosi dan penanganannya lebih terlihat implicit daripada eksplisit dalam penelitian ini, karena perhatian para peneliti berpusat pada kondisi eksternal yang mempengaruhi penyesuaian diri dan ketidaksepakatan daripada pada usaha seseorang yang terjebak di tengah-tengah tekanan masyarakat (yang melibatkan emosi yang sangat kuat). Penelitian – penelitian pada pengaruh sosial sangatlah jarang bila berkaitan dengan emosi seperti kecemasan, rasa malu, rasa bersalah dan rasa marah yang biasanya terlibat dalam situasi ini dalam lingkup pengaruh sosial atau dengan proses penanganan yang harusnya merupakan kelebihan mereka. Hampir sama, satu alasan untuk ketidakpedulian ini adalah ketidakminatan psikologi untuk alsan yang epistimologis, dalam emosi dan kita melihat lagi contohnya keisengan dan fasion dalam ilmu pengetahuan.
Bayangkan subyek apa yang merasa dalam percobaan Asch pada penyesuaian diri. Duduk disana dan terlihat untuk memberikan satu jawaban namun juga melihat jawaban lain satu per satu dan kemudian memberikan jawaban lain, beberapa orang mungkin menjadi bingung: Äpa yang salah disini? Apakah aku salah mengerti apa yang sedang terjadi? Sedangkan yang lain berpura-pura menjadi sangat cemas dan malu seolah-olah scenario penyimpangan mereka terbongkar. Äku selalu terlihat bodoh” seseorang berkata pada diri mereka sendiri, Kenapa aku terlahir sangat bodoh? Tidak ada satu orangpun yang memperhatikanku jika aku bersikeras berkata apa yang kelihatan sepertiku. Aku akan pergi dengan kelompok agar tidak mempermalukan diriku sendiri dan melihat apakah aku dapat menebaknya.” Orang lain masih saja bisa marah: “Punya hak apa mereka menempatkanku pada situasi seperti ini? Ada apa dengan orang goblok ini?”dan bagaimana tentang penelitian Schacter tentang bagaimana kelompok menghukum para pelanggar? Kecemasan, rasa malu, rasa marah, iri, cemburu – semua emosi yang biasanya terjadi. Sejenak setelah ketidakjelasan dalam adanya usaha untuk mengukurnya adalah proses yang dikaitkan dengan pengendalian dalam ancaman sosial dan intrafisik dan kerusakan integritas subyek. Penelitian asli Asch merupakan sesuatu yang penting namun terbatas, pengecualian pada kurangnya perhatian dengan emosi yang terdapat pada keadaan dengan tekanan social dan bagaimana orang manangani konflik dan ancaman yang biasa terjadi ini. Asch (1952a, 1952b) dengan hati-hati mewawancarai subyeknya setelah eksperimen tersebut, interview yang menyimpulkan hipotesis yang subur terutama tentang proses penanganan. Ia mengkonfrontasi setiap subyek yang menghasilkan mengalah pada tekanan kelompok dengan performa mereka setelahnya dan dimintai keterangan.
Beberapa subyek bersedia mengakui bahwa mereka percaya pada peserta lain dan telah salah dalam penilaian mereka dan menjelaskan adanya konflik dan tekanan hebat tentang menjadi orang yang menyimpang. Untuk menghindari penyimpangan, mereka dengan jelas dan sadar memilih untuk bergabung dengan kelompok tersebut. Subyek lain juga dilaporkan mengalami tekanan namun berusaha berdamai dengan kesulitan dalam piikiran mereka dengan berasumsi bahwa mereka salah mengerti akan sesuatu. Dampaknya, mereka pergi bersama kelompok tersebut, berfikir bahwa mereka sendirilah yang salah. Akhirnya, sebuah bagian kecil dari subyek mengekspresikan keterkejutan dan kebingungan ketika diberitahu tentang kesalahan, diberitahu bahwa ia tidak bias mengingat pernah mengalami kesulitan dalam belajar dan menolak pengaruh dari kelompok tersebut.
Tigas proses penanganan yang berbeda disarankan oleh data-data interview ini: (1) Karena kelompok adalah agen yang sangat kuat, mampu mendisiplinkan seseorang, beberapa subyek merasa lebih aman ketika mereka menghindari sorotan pada mereka sebagai seorang yang menyimpang; (2) karena orang-orang perlu konfirmasi dengan orang lain tentang penilaian mereka tentang dunia, beberapa subyek melihat pada orang lain dan mengevaluasi kecukupan dalam pemikirannya dan pemahamannya sendiri dan kemudian merubah pendekatan mereka ketika mereka terlihat keluar jalur. (3) karena orang membutuhkan persetujuan dan penerimaaan dari orang lain, beberapa orang yang diperlakukan dengan tidak baik ketika persetujuan ini membahayakan penyesuaian diri yang secara otomatis tanpa menyadari apa yang mereka lakukan.
Ketiga proses yang terlibat ini dapat disimpulkan sebagai sebuah contoh konflik dan pertahanan tanpa kesadaran. Polanya seperti sepasang suami istri yang meminta perceraian, sangat mengejutkan dan terlihat tidak memperhatikan ada yang salah dengan pernikahannya. Sebuah interpretasi alternative adalah bahwa pada jenis ini seseorang tidak memperhatikan hal-hal sederhana pada bagaimana perasaan seseorang, mempunyai interpretasi yang salah terhadap apa yang terjadi, dan naïf tentang orang lain. Bagaimanapun juga, jika seseorang mengingat cara pertahanan histeris dapat dikatakan sebagai penindasan (atau penolakan), yang mengarahkan pada kenaifan yang berdasarkan pada penyempitan perhatian terhadap segala sesuatu yang mungkin mengantang, mempunyai dua interpretasi, naïf dan bersifat menolak, tidak akan menjadi hubungan yang eksklusif dan menguntungkan. Lebih lanjut lagi, apa yang kelihatan seperti penolakan mungkin semata-mata hanyalah sebuah cara otomatis dalam merasakan hal terkait dengan dunia, biasanya terjadi pada awal kehidupan dengan tidak mau melihat hal apa yang mengancam, daripada menjadi sebuah proses aktif dari penolakan atau penindasan (contohnya, penelitian Luborsky, Blinder & Schimek, 1965, pada kewaspadaan dan penghindaran).
Mendidik Emosi
Untuk kembali pada proses sosialisasi emosi, yang merupakan cara untuk mendeskripsikan isu utama saat ini, perhatian yang kecil diberikan pada usaha-usaha pendidikan untuk membentuk emosi, meskipun hal ini terlihat akan berubah. Contohnya, Pollak dan Thoits (1989) telah mendeskripsikan beberapa cara dimana para anggota staf sekolah terapi untuk gangguan pada anak 3-5 tahun mengkomunikasikan apa yang sesuai dan tidak sesuai secara emosiaonal. Penulis mengutip pendapat Harris dab Olthof (1982) bahwa terdapat tida kemungkinan anak berada pada keadaan emosi yang disadari, dan mereka dilabeli dengan istilah solipsistic, behaviorist dan sociocentrict. Solipsisticmengacu pada kesadaran diri sendiri dan observasi diri sendiri, behaviorist mengacu pada belajar dari reaksi emosi orang lain, sociocentric mengacu pada instruksi verbal formal dan informal pada komunitas. Anak harus belajar untuk menghubungkan kejadian-kejadian dalam situasi tertentu, gerakan-gerakan ekspresif dan sensasi internal.
Data Pollak dan Thoit menunjukkan bahwa anak-anak yang ia amati pada seting khusus diajarkan hati-hati tentang emosi oleh pelabelan dan dengan mengeksplisitkan bagaimana seharusnya mereka bereaksi dan mengapa. Instruksi terpadu diberikan oleh staff hanya ketika anak menyimpang dari norma-norma emosi, mengekspresikan perasaan yang tidak sesuai atau menunjukkan perasaan. Implikasinya adalah bahwa proses yang sama terjadi pada anak-anak tanpa gangguan emosi dalam kehidupan keluarga dan sekolah (lihat juga Bloom & Beckwith, 1989, yang meneliti tentang integrasi ekspresi afektif dan linguistic pada awal perkembangan bahasa).
Masalah dengan pemisahan antara arti yang didapat atau budaya dengan tekanan sosial pada seseorang dalam lingkup social seringkali sulit untuk dikatakan dan pada perluasan apakah mereka mendesak satu sama lain atau terjadi konflik. Contohnya, seperti apa yang aku katakana lebih awal, tidak jelas apakah kita harus menggolongkan peraturan perasaan Hochschild sebagai variable struktur social ataukah sebagai karakteristik budaya yang diinternalkan dan dioperasikan dalam transasksi seketika. Mereka dapat beroperasai dalam keduanya. Fungsi tumpang tindih pada pengaruh ini terkadang tidak jelas antara peraturan perasaan berdasarkan budaya atau perorangan dan hal itu muncul secara situasional keluar dari konteks struktur social.
Dengan mempertimbangkan hal ini, figur publik harus berdamai dengan kesedihan atau tekanan-tekanan lain dalam kehidupan pribadi. Ketika saya mengunjungi Australia beberapa tahun yang lalu, saya memasuki lingkup politik yang mempesona yang berpusat pada Bob Hawk yang kemudian menjadi kandidat untuk menjadi Perdana Menteri untuk pertama kalinya. Dalam sebuah interview televise, ia ditanyai tentang anak perempuan tirinya, yang sedang berusaha keluar dari ketergantungan narkoba pada waktu itu dan dalam interview tersebut Hawk meneteskan air mata. Terdapat banyak spekulasi di masyarakat apakah penunjukkan tekanan emosi ini akan merusak pengandidatannya atau tidak. Apakah hal seperti ini menunjukkan ia sebagai laki-laki yang lemah diantara masyarakat yang macho?
Hal ini terjawab setelah Hawk terpilih beberapa kali, penunjukkan emosi tidak merusak karir politiknya tetapi malah membantu karirnya dalam berpolitik. Di sisi lain, beberapa pembaca mungkin menginat kehancuran aspirasi presidensial Edmund Muskie pada pemilihan umum di Amerika Serikat dimana ia menangis dalam sebuah siaran. Kedua episode ini mengungkapkan kuatnya tekanan sosial pada public figure namun kita akan mengerti persamaan dan perbedaan dengan lebih baik jika kondisi yang beroperasi pada mereka juga didokumentasikan.
Mungkin emosi yang paling terasa pada public figure adalah mereka harus melakukan kesulitan khusus, diberikan tekanan biologis yang tertera dalam ekspresi wajah terhapa emosi yang dirasakan; mengembalikan atau menghentikan emosi tersebut dibutuhkan banyak usaha. Seringkali ekspresi wajah terbentuk oleh strukstur neurofisiologi seperti yang dipelajari oleh badan komunikasi sosial. Contohnya, Lanzetta (Englis, Vaughn, & Lanzetta, 1982; Lanzetta & Orr, 1980, 1981, 1986; Orr & Lanzetta, 1980, 1984), menunjukkan bahwa sangatlah sulit mengubah kondisi negative ke raut muka gembira dan respon relaksasi ke muka ketakutan. Hal ini mungkin juga dipertimbangkan sebagai sebuah contoh tentan apa yang diacu sekarang ini yang disebut sebagai “persiapan kondisi” yang saya bahas secara singkat di bab 8 kaitannya dengan kasus dimana beberapa ketakutan dapat dikondisikan mungkin dikarenakan oleh seseorang yang berpembawaan halus dan pengaruh psilogenetis.
Dari pandangan politik apakah kita boleh menangis dan berteriak atau pengesampingan pengendalian emosi, seperti yang terlihat dalam pemakaman? Seperti public figure, seperti apakah Jackie Kennedy harus bersikap dalam pemakaman suaminya presiden Kennedy, setelah pembunuhannya? Seberapa besar kesedihan yang harus ia tunjukkan? Seberapa besar kesedihan yang sebenarnya ia rasakan? Seberapa besar tekanan yang ia rasakan? Terdapat perbedaan kelas sosial dan budaya dalam hal ini, begutu juga situasi sosial yang diminta oleh orang lain. Bagaimana tentang pramugari pesawat yang sebenarnya merasa ketakutan namun harus tetap terlihat ceria dan ramah?
Kita juga harus mengingat juga bahwa kita tidak bersikap pasif dalam menggabungkan peraturan dan nilai-nilai sosial dan memasukkan mereka ke dalam diri kita sejalan dengan perkembangan diri kita. Gambaran osmosis yaitu penerima secara pasif pada hal-hal di sekitarnya mempunyai ketidak tertarikan pada selektivitas yang mana anak-anak yang meniru orang tuanya, memilih peran dan pola bersikap pada basis bagaimana pelayanan yang harusnya mereka berikan pada anak (contohnya, Banduru, Riss & Ross, 1963).
Implikasinya adalah kita memasuki lingkup transaksi sosial sebagai seseorang dengan arti dan nilai-nilai yang didapat, dan mengkonfrontasi persyaratan dari situasi sosial yang menekan kita dalam satu jalan atau jalan yang lainnya. Terkadang peraturan perasaan dan nilai-nilai budaya internal menekan seseorang pada jalan yang sama dan terkadang dalam cara yang berlawanan. Penilaian hasil dan proses penanganan, dan emosi yang naik akan tergantung pada pengaruh kedua variable.
Sebuah masalah dengan analisa ini adalah kesulitan dalam membedakan yang saya buat sebelumnya antara ekspresi emosionla dan pengalaman emosional. Kita dapat mengamati ekspresi, namun lebih sulit untuk masuk kedalam pikiran seseorang untuk mengetahui pengalaman tersebut. Pengaruh sosial kemungkinan mempengaruhi keduanya, meskipun kita hanya dapat mengetahui pengalaman dengan menarik kesimpulan dari apa yang diekspresikan, dilaporkan dan diamati. Salah satu pertanyaan yang paling sulit bagi siapa yang tertarik pada peraturan perasaan, contohnya, adalah pada perluasan apakah perasaan yang sebenarnya yang berkebalikan dengan emosi yang ditunjukkan, dapat dipengaruhi dan dirubah. Psikoterapis dibutuhkan untuk mengganti disfungsi dan proses menurunkan emosi ketika ketika hal ini kambuh lagi dengan sering. Untuk menunjukkan genggaman yang baik pada prinsip yang terlibat dalam proses emosi dan perkembangannya, teori emosi harus mencakup beberapa ekspresi emosi yang dapat dilunakkan dan beberapa pengalaman.
Untuk memahami apa yang terjadi pada emosi dalam lingkup sosial, seseorang harus menanamkan dalam pikiran bahwa masing-masing partisipan bereaksi untuk mengisyaratkan atau menandakan kepada orang lain bahwa indikasi yang diberikan tentang bagaimana sesuatu berlangsung dari sudut pandang agenda pribadi seseorang. Ketika ada sesuatu yang dipertaruhkan dalam lingkup tersebut, penilaian terhadap serangkaian isyarat ini membentuk pergerakan kompleks dalam kegiatan kognitif, emosional dan pengendalian yang merupakan bagian dari proses emosi.
Usaha Kemper (1978) untuk menggunakan variasi dalam dua jenis hubungan sosial, status dan kekuasaan seperti penjelasan terhadap sejumlah emosi yang menggambarkan bagaiman hal ini dapat berfungsi. Meskipun definisinya cenderung idiosinkratis dari sudut pandang sosiologi tradisional, ia mendefinisikan status sebagai sesuatu yang diberi dan diterima oleh seseorang secara suka rela dan tanpa tekanan dari orang lain; kekuasaan dalam kebalikannya, dapat memaksa orang lain untuk melakukan kemauan seseorang. Seseorang dapat mempunyai kekuasaan yang kuat dan merasa aman dan mempunyai potensi; kekuasaan yang terlalu besar dan merasa bersalah atau status kekuasaan yang tidak memadai dan merasa cemas dan ketakutan. Seseorang juga dapat mempunyai kekuasaan yang berlebihan dan merasa malu atau kurangnya status dan merasa sedih, marah atau depresi. Memberi seseorang kurang dari apa yang pantas is terima dapat menimbulkan rasa bersalah dan malu; merasa bersalah karena seseorang telah melukai orang lain dan merasa malu karena kelebihan kekuasaan terhadap orang lain yang cenderung meniadakan kejujuran, kesopanan dan keadilan. Pada tinjauan dan analisis lebih lanjut pada penelitian dan teori pada asal-usul dan sosialisasi perasaan bersalah, saya merekomendasikan bab yang sangat baru dari Zahn-Waxler dan kochanska (1990).
Jika kita mengadopsi focus pada filogenetis, kita melihat bahwa etologis, psiokologis perbandingan dan sosial psikologis telah lama menyadari nilai-nilai komunikasi pada kondisi ekonomi seperti yang terungkap pada instrument aksi dan ekspresi (Frick, 1985; Heider, 1958; Marler, 1984). Psikologis perkembangan juga menyadari bahwa komunikasi emosi melalui ekspresi wajah ibu dan pada gilirannya, komunikasi oleh bayi atau anak kecil pada ibunya (Campos, Barett, Lamb, Goldsmith, & Stenberg, 1983; Dunn, 1988; Lewis & Michalson, 1983; Sroufe, Schork, Motti, Lawroski, & LaFreniere, 1984; dan Trevarthen, 1984). Bagaimana sinyal emosi dinilai berdasarkan pada peraturan untuk pertukaran sosial begitu pula pada dasar kebudayaan atau turun-temurun, secara universal arti dari gerak tubuh atau ekspresi lainnya. Peranan sifat keturunan biologis lebih jelas dan lebih mudah untuk dilihat dalam makhluk sederhana dan tidak terlalu dapat diaplikasikan pada manusia.
Struktur dan Penilaian Sosial
Budaya dan struktur sosial berinteraksi dalam cara yang kompleks, bagaimanapun juga, keduanya berjalan dalam satu ruang lingkup dan terkdang berjalan dalam konflik. Struktur sosial seperti nilai-nilai dan arti budaya dapat diinternalkan sehingga dapat menjadi karakter seseorang. Analisa seperti ini dapat membuat hal ini menjadi bebas dan bersih dari ketidakjelasan. Contohnya, karena transaksi adaptasi yang tidak terungkapkan, pola pengaruh sosial pada penilaian, dan akumulasi emosi yang dialami pada diri seseorang selama memasuki ruang lingkup sosial dan setelah berada dalam lingkup sosial. Maka dari itu, pendatang baru mungkin menganalisa ruang lingkup yang serupa di masa lampau pada masing-masing perorangan dan pada masing-masing pasangan. Sejarah ini sendiri mengajarkan masing-masing perorangan sesuatu yang dapat mempengaruhi pola penilaian dan penanganan. Meskipun perpaduan dari berbagai variable berubah secara berkelanjutan, hal ini secara konstan merevisi implikasi criteria ‘menjadi baik’dan kemudian akan merubah pengalaman emosi dan emosi yang ditunjukkan yang dialami oleh seseorang yang sama dapat menciptakan struktur tujuan, harapan, dan strategi penanganan emosi yang akan menciptakan pola stabil dalam jangka waktu yang lama di waktu kapanpun hal yang sama terjadi lagi.
Maka dari itu, latar belakang dari setiap transaksi, selalu ada tiga kekuatan utama yaitu: (1) arti budaya yang membentuk motif, kepercayaan dan memahami seseorang tentang apa yang terjadi (2) tekanan sosial yang bertubi-tubi, yang dikomunikasikan oleh perilaku dramatis dalam ruang lingkup yang tidak terungkapkan. (3) sebuah sejarah masa lampau yang sejenis atau terkait dengan ruang lingkup yang telah diajarkan oleh kepala masyarakat dimana struktur sosial berpengaruh pada emosi dimana peran sosial dan status seseorang terikat pada transaksi sementara dalam ruang lingkup kehidupan sosial.
Kesimpulan
Bab ini melihat pada perkembangan emosional dari sebuah sudut pandang sosiobudaya. Aturan sosial yang mengatur perilaku manusia dan kehidupan emosional kita kesemuanya merupakan sesuatu yang sangat kompleks dan berlangsung dengan halus pada hal yang pokok. Sebuah permasalahan utama dalam ilmu pengetahuan adalah untuk menghubungkan tingkat analisis makro pada system sosial dengan tingkat mikro pada pribadi perorangan dan untuk mengatakan bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain. Masyarakat mempengaruhi emosi dengan mempengaruhi variable proses yang terlibat didalam hasil seperti perilaku dan ekspresi dan input seperti perasaan dan peraturan penunjukkan perasaan, nilai-nilai pernyataan, dan proses yang sedang berlangsung seperti penilaian dan penanganan.
Terdapat dua bentuk utama dari pengaruh sosial: budaya dimana kita tinggal dan struktur sosial. Budaya memberikan arti yang diinternalkan dan sosial struktur memberikan permintaan, ketidakleluasaan, dan sumber yang beroperasi di setiap transaksi penyesuaian diri. Sebuah bagian yang bagus dari pembahasan yang berfokus pada cara berfikir tentang budaya dan konsekuensinya terhadap emosi begitu pula dengan contoh pengaruh ini. Pengaruh budaya dikaitkan dengan 6 komponen penilaian yang membentuk teori inti dalam analisis saya.
Sejumlah besar perhatian diberikan pada gagasan penelitian dalam hal struktur sosial berdampak pad emosi, termasuk penelitian psikologis klasik dalam penyesuaian diri dengan tekanan sosial. Struktur sosial dikaitkan dengan keenam komponen pada system teori.
Terdapat sedikit penelitian yang secara eksplisit pada sosialisasi emosi, dan kita perlu untuk tahu lebih banyak tentang bagaimana model pengajaran orang dewasa dan bagaimana harus merasa dan apa dan bagaimana untuk mengekspresikan emosi dalam konteks sosial. Contoh bagaimana hal ini diberikan, termasuk memberikan komunikasi emosi dengan hati-hati oleh para orang tua.
Saya juga menunjuk pada pemisahan antara pengaruh kebudayaan dan struktur sosial yang samar, karena secara tipikal mereka berjalan dalam transaksi sosial yang sama. Dalam beberapa kasus, dalam setiap transaksi terdapat beberapa arti budaya, tekanan sosial, dan sejarah masa lampau pada lingkup sejenis yang kesemuanya harus dipahami untuk memahami pengaruh sosiobudaya pada proses emosi.
Dari IMMawan Septian Adhi N
Selengkapnya...