Jumat, 26 Maret 2010

Peran Mahasiswa Dari Kacamata Al-Qur’an

Peran Mahasiswa
Dari Kacamata Al-Qur’an

Peran Strategis Mahasiswa. Sebagai bagian dari pemuda, memiliki karakter positif antara lain idealis dan energik. Idealis berarti mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban sejarah atau beban posisi dalam struktur kekuasaan negara. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik tanpa adanya resistensi yang terlalu besar. Sedangkan energik berarti pemuda siap sedia melakukan “kewajiban” yang dibebankan oleh suatu ideologi manakala dia telah meyakini akan kebenaran ideologi itu.
Dalam perspektif al-Quran mahasiswa memiliki tiga peran strategis. Pertama, sebagai generasi Penerus, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (Q.S Ath-Tur:21), yang dimaksud dari ulasan ayat tersebut yaitu Negara yang ada saat ini adalah tidak lepas dari perjuangan Revolusioner kita terdahulu dan inilah kewajiban kita sebagai generasi muda yang mempunyai kesadaran untuk meneruskan nilai-nilai kebijaksanaan yang ada pada suatu Masyarakat (Ummat) untuk jalannya suatu perjuangan dan janji Allah Pada Ummatnya siapa yang mampu untuk melakukan hal yang demikian, Allah akan meninggikan Derajat kita layaknya derajat yang telah diberikan pada para pejuang kita terdahulu.
Kedua, sebagai generasi Pengganti, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai mereka dan merekapun mencintaiNya (Q.S Al-Maidah:54), dari paparan ayat diatas, bahwasanya bukan sekedar Makhluk yang keluar dari suatu keyakinan atau agamanya saja, akan tetapi agama disitu juga dimaksudkan untuk jiwa-jiwa yang sadar akan tanggungjawab, akan tetapi menafikan hakekat dari keberadaan dirinya dimuka bumi atau tanggungjawab yang dimilikinya dengan berbalik arah pada suatu jalan yang hanya memberikan suatu kemudhorotan bagi kaum disekelilingnya, selain itu yang dimaksudkan dengan kata mengganti itu sendiri memiliki makna yaitu menggantikan kaum yang memang sudah tidak patut untuk dipertahankan dan tidak produktif lagi dalam proses kehidupan.
Ketiga, sebagai generasi Pembaharu “Sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah aku. Niscaya aku akan menunjukkan jalan yang lurus (Q.S Maryam:42), yang dimaksudkan pada ayat tersebut adalah suatu himbauan bahwasanya setiap insan dimuka bumi pada hakekatnya telah diberikan suatu bekal ilmu pengetahuan, akan tetapi dengan apa yang telah dimilikinya bukan berarti manusia akan berhenti pada satu pengetahuan saja, karena ilmu yang telah dimilikinya hanya sebagian ilmu yang ada dimuka bumi ini. Oleh sebab itu, manusia dianjurkan untuk terus mencari dan memperdalam pengetahuannya. Selain itu yang dimaksudkan dari pembaharu disini yaitu manusia yang memiliki ilmu hendaknya tidak lantas berbangga hati dengan ilmu yang sudah ada, dan menjadikan ilmu yang dimiliki itu memiliki peran untuk mampu memberikan perbaikan dan memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu kaum. Itulah peran strategis mahasiswa yang seharusnya mampu untuk diberdayakan sehingga peran mahasiswa menjadi produktif dan lebih progresif dalam gerak sebagai Agend Of Change.

By: IMMawati Rizqah Al-Ghozali
Selengkapnya...

‘Sepintas Gerakan Mahasiswa Islam Di Indonesia dan Karakternya’

‘Sepintas Gerakan Mahasiswa Islam Di Indonesia dan Karakternya’

Di Indonesia terdapat lima organisasi mahasiswa ekstra universitas atau sering dinamakan ormas mahasiswa, yang cukup menonjol, yaitu HMI Dipo (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), HMI MPO (Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Kesemuanya menarik untuk dikaji karena sama-sama membawa label Islam sebagai identitas organisasinya, namun memiliki corak wacana dan strategi perjuangan yang khas. Berikut sekilas perjalanan dari ormas mahasiswa Islam tersebut:
HMI lahir ditengah-tengah suasana revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, yaitu pada 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta. Lafran Pane dan kawan-kawan merasa prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang terpecah-pecah dalam berbagai aliran keagamaan dan politik serta jurang kemiskinan dan kebodohan. Oleh karena itu dibutuhkan langkah-langkah strategis untuk mengambil peranan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemudian didirikanlah wadah perkumpulan mahasiswa Islam yang memiliki potensi besar bagi terbinanya insan akademik, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah. Dalam perjalanannya, HMI telah banyak melahirkan kader-kader pemimpin bangsa. Hampir di sepanjang pemerintahan Orde Baru selalu ada mantan kader HMI yang duduk di kabinet.
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya mendirikan sebuah organisasi sebagai wadah pergerakan angkatan mudanya dari kalangan mahasiswa yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).. Di jalur intelektual PMII banyak mengembangkan dan mengapresiasikan gagasan-gagasan baru, misalnya mengenai hak asasi manusia, gender, demokrasi dan lingkungan hidup. PMII, ormas mahasiswa Islam ini lebih mengembangkan teologi yang lebih radikal bila dipandang oleh sebagian besar umat Islam pada umumnya. Pada mulanya PMII memakai doktrin teologi Aswaja (ahlussunnah wal jama’ah) sebagi doktrin resmi yang dipakai NU dan masyarakat Islam Indonesia pada umumnya. Doktrin teologi Aswaja lebih banyak berbicara mengenai takdir manusia yang telah ditentukan Allah, dan kedudukan manusia sebagai makhluk. Namun akhir-akhir ini tradisi kritik yang berkembang di PMII tidak hanya menggugat kemapanan (status quo) struktur sosial, ekonomi dan politik yang ada, tapi termasuk doktrin teologi Aswaja. PMII dengan berani menggulirkan perlunya pembacaan kembali konsep Aswaja
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964. Sebagai organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah sifat dan gerakan IMM sama dengan Muhammadiyah yakni sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar. Ide dasar gerakan IMM adalah; Pertama, Vision, yakni membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual enlightement (pencerahan intelektual) dan intelectual enrichment (pengkayaan intelektual). Strategi pendekatan yang digunakan IMM ialah melalui pemaksimalan potensi kesadaran dan penyadaran individu yang memungkinkan terciptanya komunitas ilmiah. Kedua, Value, ialah usaha untuk mempertajam hati nurani melalui penanaman nilai-nilai moral agama sehingga terbangun pemikiran dan konseptual yang mendapatkan pembenaran dari Al Qur’an. Ketiga, Courage atau keberanian dalam melakukan aktualisasi program, misalnya dalam melakukan advokasi terhadap permasalahan masyarakat dan keberpihakan ikatan dalam pemberdayaan umat. IMM tidak bisa lepas begitu saja dari pengaruh kultur yang ada di Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, tentu saja tidak bisa lepas dari agama sebagai landasan teologis dalam berpikir, bertindak dan berinovasi. Aspek teologis ini penting karena dari sinilah Muhammadiyah melancarkan purifikasi agama atau pemurnian tauhid dari segala bentuk praktek keagamaan yang berbau takhayyul, bid’ah dan khurafat. Dengan langkah ini sebenarnya Muhammadiyah ingin melangkah ke arah praksis, yaitu memperbaharui pola pikir umat yang lebih “membumi”, tidak mistis dan metafisis
Setelah beberapa tahun HMI MPO lebih banyak melakukan aktifitas gerakannya secara sembunyi-sembunyi, pada tahun 1990-an ketika pemerintah mulai menjalin hubungan baik dengan Islam, HMI MPO mulai nampak kembali kepermukaan. Di beberapa daerah yang merupakan basis HMI MPO seperti Yogyakarta, Bandung, Ujungpandang dan Purwokerto kader-kader mereka cenderung radikal dan lebih militan. Pada kenyataannya represi negara justeru membuat HMI MPO menjadi lebih matang dan kuat. HMI MPO sendiri sedikit mengalami pergeseran, jika pada awalnya gerakan mereka cenderung fundamentalis dan eksklusif. Pada akhirnya mereka mulai terbuka dengan memperluas cakrawala pengetahuan sehingga mampu menyesuaikan diri dengan perubahan. HMI Dipo telah menjadikan pemikiran neo-modernisme ini sebagai referensi utama bagi pemahaman teologinya. Lewat pemikiran-pemikiran Cak Nur yang juga mantan ketua PB HMI inilah konsep Islam Keindonesiaan ditawarkan oleh kader-kader HMI.
KAMMI terbentuk dalam rangkaian acara FS LDK (Forum Sillaturahmi Lembaga Da’wah Kampus) Nasional X di Universitas Muhammadiyah Malang tanggal 25-29 Maret 1998. Ada dua alasan terbentuknya KAMMI, pertama, sebagai ekspresi keprihatian mendalam dan tanggung jawab moral atas krisis dan penderitaan rakyat yang melanda Indonesia serta itikad baik untuk berperan aktif dalam proses perubahan. Kedua, untuk membangun kekuatan yang dapat berfungsi sebagai peace power untuk melakukan tekanan moral kepada pemerintah. KAMMI yang dilahirkan oleh para aktivis Lembaga Dakwah Kampus memiliki corak pergerakan yang khas. Jaringan mereka sangat luas dan telah ada hampir diseluruh Perguruan Tinggi di Indonesia. Tradisi pendekatan wacana yang berkembang di KAMMI adalah upaya pencarian keabsahannya gerakannya melalui teks-teks suci. Hampir di setiap kali muncul wacana pemikiran KAMMI akan selalu diikuti sumber pembenarannya dari teks Al Qur’an dan Hadits. Pembacaan terhadap teks-teks suci tersebut telah memberikan semangat juang (ghiroh) tersendiri bagi KAMMI. Pada akhirnya, kontekstualisasi teks dengan realitas sosial sekarang mendorong KAMMI berkiprah lebih banyak di bidang pelayanan sosial, pendidikan politik, dan advokasi umat.
Target : Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pergerakan organisasi islam di Indonesia dan karakter yang dimiliki oleh masing- masing gerakan serta mampu membedakannya sesuai cirri yang ada pada masing-masing gerakan.
Selengkapnya...

“Kurikulum Sekolah” Suatu bentuk paksaan atau arahan??

Abstract

“Kurikulum Sekolah” Suatu bentuk paksaan atau arahan??
Pendidikan dalam arti luas merupakan “Life is Education and Education is life” berarti bahwa seluruh proses hidup dan kehidupan manusia itu adalah proses pendidikan. Segala pengalaman sepanjang hidup manusia memberikan pengaruh pendidikan baginya. Dan dalam arti yang sempit, pendidikan hanya mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar-dasar dan pandangan hidup kepada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar yang serba terkontrol.
Dari pengertian yang luas dan sempit mengenai pendidikan di atas tidak mungkin kita lepas dari manusia, karena manusialah yang mengalami dan hidup untuk proses pendidikan. Dalam pengertian yang sempit selanjutnya manusia lebih dibentuk dan dikonsep oleh sebuah kurikulum kaitannya dengan pendidikan yang formal yang selama ini disebut sekolah. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Asumsinya bahwa individu yang mengikuti proses dalam pendidikan formal (baca:sekolah) dipaksa dan dikonsep seperti yang telah direncanakan dalam kurikulum. Kurikulum sekolah ini merupakan bentuk pemaksaan dan penekanan terhadap peserta didik (baca: manusia) karena kurikulum selau bersifat mengharuskan dan menuntut peserta didik untuk bisa melakukan apa yang didinginkan oleh sekolah atau lembaga pendidikan formal. Dan dalam sistem persekolahan sendiri mengandung lembaga yang bersifat kompetitif. Hal ini dapat dirasakan peserta didik yang merasa gagal di dalam pelaksanaan ujian di sekolahan. Peserta didik cenderung gelisah dan merasa cemas ketika akan menghadapi ujian sekolah. Sistem kompetisi semacam ini tidak dapat sepenuhnya membangun karakter peserta didik sehingga hakikat tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia pun akan sulit tercapai.
Uniforming terhadap kompetensi peserta didik juga merupakan salah satu unsur yang terkandung dalam konstruksi kurikulum sekolah. Dalam teori perkembangan mengatakan bahwa manusia itu unik dan beragam sehingga muncul individual deferences sehingga antara individu satu dengan yang lain belum tentu memiliki kompetensi yang sama. Kaitannya dengan hal ini adalah bahwa dalam pendidikan membutuhkan kurikulum yang lebih memuat konsep atau sistem pembelajaran yang koopeartif (cooperative learning) di mana setiap individu yang berbeda-beda dalam suatu kelompok belajar dapat saling melengkapi dan mempunyai motivasi lebih dari peergroupnya sehingga mereka merasa terdukung oleh lingkungan, merasa dihargai dan menimimalisir perasaan gelisah dan kecemasan pada diri peserta didik tersebut dalam proses belajar mengajar.
Pencapaian rencana pembelajaran yang telah terkonstruksi dalam kurikulum diukur dengan konsep pembandingan antara individu satu dengan yang lain yang menjadikan satu individu terukur secara sistem bukan terukur karna kemampuan yang dimilikinya. Dari permasalahan diatas memerlukan rekonstruksi kurikulum sekolah yang lebih flexible dan dapat diterapkan di sekolah ataupun lembaga pendidikan formal. Sehingga sekolah benar-benar memanusiakan manusia tidak seperti teori perlakuan yang identik dengan asumsi bahwa manusia bersifat mekanik. (Immawati Ummu)
Selengkapnya...

Tokoh yang mendasari pengembangan perilaku maupun ekspresi berbagai emosi

Tokoh yang mendasari pengembangan perilaku maupun ekspresi berbagai emosi

Terdapat dasar-dasar teori dari para ahli yang menggambarkan ekspresi emosi yaitu

Hurlock, ahli ini melihat emosi dari perkembangan masa bayi hal ini macamnya adalah :
Masa bayi :
a. Kemarahan
Perasaan nya terekspresi melalui menjerit, meronta, menendangkan kaki, mengibaskan tangan, memukul atau menendag apa saja yang ada didekatnya. Hingga perkembangannya bayi dapat melonjat maupun berguling- guling..
b. Ketakutan
Ekspresi yang timbul dengan cara merengek, menangis dan menahan nafas.
c. Rasa ingin tahu
ekspresi wajah yang menegangkan otot muka, membuka mulut, menjulurkan lidah, kemudian bayi akan menangkap barang yang membangkitkan rasa ingin tahunya tersebut, memengang, membolak – balik, melempar atau memasukkannya kemulutnya.
d. Kegembiraan
Ekspresi yang timbul bila gembira ialah berdekut, berdeguk, atau bahkan berteriak dengan gembira dan semua gerak tubuh menjadi makin intensif.
e. Afeksi
Ekspresi bayi terhadap sesuatu yang ia cintai adalah menepuk dan mencium barang atau orang yang dicintai.
Masa Awal anak :
a. Amarah
Ekspresinya dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat – lompat atau memukul.
b. Takut
Ekspresi terhadap rasa takut adalah panik, kemudian menjadi lebih khusus seperti lari, menghindar, bersembunyi dan menghindari situasi yang menakutkan.
C. Cemburu
Kalau cemburu Ekspresinya dengan berperilaku regresi seperti mengompol, mencari perhatian, nakal
d. Ingin tahu
Ekspresi dengan rasa ingin tahu yaitu dengan bertanya.
e. Iri hati
Anak akan mengambil barang yang membuat iri hati atau bertanya untuk meminta barang itu.
f. Gembira
Ekspresi gembira yang timbul dengan tersenyum ,tertawa,bertepuk tangan, melompat – lompat, memeluk atau orang yang membuatnya bahagia.
g. Sedih
Ekspresi yang ditimbulkan menangis maupun kurangnya minat terhadp kegiatan normal.
h. Kasih sayang
Ekspresi anak menyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan
mencium objek kasih sayangnya.
Saat remaja masalah timbul sehingga semakin mengubah sikapnya.

Menurut Wundt ada tiga pasang kutub emosi, yaitu :
1. Senang – tak senang, 2. Tegang – tak tegang. 3. Semangat – tenang
Perubahan-perubahan pada tubuh pada saat terjadi emosi Terutama pada emosi yang kuat, seringkali terjadi juga perubahan-perubahan pada tubuh kita antara lain :
1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona.
2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah.
3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut.
4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa.
5. Pupil mata : membesar bila sakit atau marah.
6. Liur : mengering kalau takut atau tegang.
7. Bulu roma : berdiri kalau takut.
8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang.
9. Otot : Ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot
menegang atau tremor.
10. Komposisi darah : Komposisi darah akan ikut berubah dalam keadaan
emosional
karena kelenjar – kelenjar lebih aktif
Selengkapnya...

Bedah Film Citizen Duanne

Bedah Film Citizen Duanne

Sebuah cita- cita tak akan terwujud apabila tidak ada realisasi diri dari pelaku yang bercita- cita itu. Maka dari itu perlu adanya semangat dan kesungguhan hati dalam merealisasikannya. Anggap saja semangat dan kesungguhan hati itu ada pada jiwa- jiwa militan. Maka sifat ideal itu harus ada pada jati diri organisasi. Kini tugas orang- orang yang ada di dalam organisasi itu lah yang harus merubah mainset dari yang biasa menjadi jiwa- jiwa militan demi tercapainya tujuan dan cita- cita itu sendiri.
Berbagai macam kegiatan telah kita lakukan demi melatih mainset jiwa- jiwa militan itu. Kajian, daurah, diskusi, kepanitian, maupun berbagai macam bentuk aksi telah kita lakukan. Hal ini tentunya kita ingin supaya kita dan kader penerus kita memiliki jiwa militan sehingga terwujudnya cita dan tujuan yang diinginkan. Tapi, apakah iya? Seberapa jauh kita membuat banyak konsep terkadang semua itu berjalan tidak sesuai dengan keinginan. Maka tak perlulah kita merasa jenuh untuk membuat segelumit konsep- konsep analisis progresif meskipun keberhasilan mutlak tak pernah kita dapatkan. Karena proses itulah justru yang membuat jiwa kita jadi militan.
Coba kita lihat dengan film berikut ini, Seorang rakyat biasa, pelajar bernama Duanne memiliki ambisi yang besar dalam mengubah gaya kepemimpinan ketua Osis yang sukanya menindas teman- temannya yang lemah ke membela teman- temannya yang lemah. Berbagai macam kegagalan ia tempuh karena ketua Osisnya sendiri adalah cucu dari Walikota di kota tersebut. Entah kenapa, misi dia untuk menjadi sosok pemimpin masih membelenggu di otaknya, hingga akhirnya aksinya lebih nekat. Ia justru keluar sekolah demi menjadi walikota di kota tersebut. Berbagai usaha, rintangan, dan cobaan ia tempuh demi ambisinya. Alhasil keinginan tak selalu membuahkan kenyataan, akan tetapi dari proses ambisinya itulah sebagai pembelajaran untuk dia untuk selalu menjadi sosok yang militan.
Selengkapnya...

Sabtu, 06 Maret 2010

Jangan Pernah Menyerah !

Jangan Pernah Menyerah !

“Cara Aku Mengubah Rintangan Terbesarku Menjadi Kesuksesan.”

Buku ini tentang seorang yang menjalankan bisnisnya dan ia mengalami bangkrut yang luar biasa besar, tapi ia sanggup berdiri kembali bahkan jauh lebih sukses dari sebelumnya. Namun, di luar cerita bisnis itu yang menarik adalah cara dia bangkit dari masalah besarnya. Di dalam buku ini banyak motivasi agar pembaca tidak pantang menyerah dalam keadaan terburuknya. Jangan pernah terpaku pada masalah, tetapi bagaimana solusinya, buku ini juga menyampaikan agar tidak terlintas pikiran negative dan yakin meskipun perasaan kita tidak yakin. Trump, yang diceritakan dalam buku ini. Ia adalah seorang bisnisman yang mengalami bangkrut yang amat besar sehingga tercatat di guiness book of world records sebagai peristiwa kejatuhan financial terbesar dalam sejarah. Tetapi berkat kegigihannya dan keyakinannya sekarang justru ia menjadi salah satu bisnisman tersukses di Amerika. Selengkapnya...

Dimensi Psikologi

Dimensi Psikologi
Lubang Pada Tembok Akal (Basel Syaikhu)

  • Ketika seseorang berusaha maka tidak ada kata terlambat u/ memulai lagi.
  • Rahasia adalah sebuah motivasi
  • Ketika kita menginginkan sesuatu dan mempunyai keinginan yang kuat maka tidak aka nada seorang pun yang dapat menghentikanmu
  • Kita harus bijaksana dalam menghadapi kehidupan ini.

Betty Selengkapnya...

Ibnu Khaldun

Benar sekali kalau ada orang berpendapat bahwa kemerosotan islam saat ini, salah satunya karena peran ulama-ulama dan ustad-ustad yang tidak maksimal. Jika dibandingkan dengan ulama-ulama jaman dulu yang begitu konsisten dan bertanggungjawab dalam berdakhwah. Ulama jaman sekarang banyak yang “instan”, baru kerja dikit maunya kelihatah. Ya mungkin ada juga ulama sekarang yang mempunyai cita-cita yang luhur, tapi kalaupun ada sangat sedikit sekali jumlahnya. Kebanyakan dari mereka menganggap ulama itu sebagai “cap” profesi semata, makanya ustad-ustad sekarang cenderung komersil. Masa di undang ngisi pengajian saja ada tarifnya, walaupun mereka tidak mengaku kalau disebut ustad komersil, tapi memang itu kenyataannya yang ada. Sangat berbanding terbalik kalau kita bandingkan dengan ulama-ulama jaman dahlu, Ibnu Khaldun misalnya, beliau ini adalah sosok ulama yang luarbiasa, bahkan dia menjadi inspirasi kemajuan Barat. Banyak pendapat-pendapat dan teori-teori beliau yang di klaim oleh para ilmuan barat. Teorinya yang paling terkenal adalah Ashabiyyah( solidaritas social ) yang kemudian di pakai ( di jiplak ) oleh Friedrick Couplestone. Lebih menarik lagi pembicara Henry Corbin, seorang orientalis Perancis. Dia mengungkapkan bahwa Ibnu Khaldun sudah lebih dulu menemukan teori kritik sejarah ketimbang Karl Max. Juga lebih dulu menemukan bangunan filsafat sejarah ketmbang Hegel, filsuf idealisme dari Jerman.
Dari pembicaraan saya di atas, dapat di ambil satu fokus, bahwa sahnya ustad atau ulama-ulama jaman sekarang terlalu naïf kalau saya bilang. Cenderung sensitive, komersil dan terbelenggu oleh fiqih. Metode dakhwah yang monoton, cuman ceramah-ceramah terus, isinya juga cuman solat-solat, zakat-zakat, itu-itu saja terus. Sehingga mereka lupa, bahwa umat islam juga harus ambil bagian dalam “mengelola” bumi ini. Seperti ulama-ulama jaman dulu yang selau berkarya dan berbuat sesuatu untuk dunia, bukan cuman buat orang islam saja. Kalau sudah begini, apa artinya kita sebagai khalifah di bumi ini?.
Ini menjadi PR kita bersama sebagai generasi muda islam, mau tidak mau kita memang harus berbuat sesuatu. Mari kita ajak para ustad-ustad muda kita untuk berkarya bukan bergaya. Apapun dan sekecil apapun yang kita lakukan, yang terpenting adalah ketulusan dalam menjalankanya. Bersama Al-Ghazali mari ita wujudkan Wacana Keilmuan dan Keislaman, cita-cita luhur Kh.Ahmad Dahlan.
Selengkapnya...

Rabu, 24 Februari 2010

Pengaturan Kelas

Pengaturan Kelas

Pengaturan Peraturan dan Prosedur Kelas

Banyak orang dari yang kecil sampai dewasa memiliki standar dalam keberhasilan di dalam prestasi sekolahnya. Keberhasilan dari standar itu harus dilakukan melalui banyak pengalaman dan pelatihan. Namun apabila orang itu salah membuat konsep belajar justru membuat orang itu mudah stress. Maka dari itu sebuah peraturan dalam belajar sangatlah penting.
Seorang guru yang baik haruslah dapat mengatur siswa- siswanya untuk mempola belajar yang baik supaya standar yang diinginkan siswa- siswanya tercapai. Maka dari itu inilah penjelasan dari pengaturan yang baik itu.

- Good Manager
Seorang guru harus menjadi pengatur yang baik. Di hari pertama masuk kelas guru harus membuat kontrak belajar yang cocok untuk anak muridnya. Kontrak belajar itu harus yang kongkrit, fungsional dan tegas. Namun peraturan bukan berarti ganas dan membuat siswa takut. Peraturan digunakan untuk memonitor siswa- siswa dalam proses belajar.
Berikan suatu indikasi dan gambaran tentang seorang siswa yang baik dan buruk. Hal ini membuat siswa mengerti hal- hal yang mesti ia lakukan sebagai siswa yang baik. Lalu berikan juga pengetahuan pada saat pertama kali sekolah kepada siswa akan keadaan lingkungan dan macam- macam fasilitas sekolahnya.

Hal- hal yang perlu diingat :
- Putuskan beberapa peraturan yang penting
- Buatlah peraturan yang bisa ditangkap semua siswa
- Jalankan peraturan untuk semua
- Hindari aturan yang subjektif

Peraturan dan Aktivitas Kelas

Siswa yang ada di dalam kelas tak lepas dari aturan- aturan yang berlaku. Semua aktivitas di dalam kelas terikat oleh sebuah peraturan. Ini adalah 5 langkah aturan- aturan yang baik untuk aktivitas kelas :
1. Penegasan aktivitas kelas.
2. Menentukan perilakuan sosial yang dibutuhkan untuk aktivitas
3. Aturan Menentukan aktivitas mana yang diutamakan duluan.
4. Membuat seperangkat aturan untuk aktivitas tertentu
5. Membuat aturan aktivitas umum

Management and Control

Guru harus menyadari bahwa tidak semua murid- muridnya bisa mengikuti aturan- aturan di dalam kelas. Beberapa siswa memerlukan pertimbangan karena dia tidak bisa mengikuti segala menejemen kelas. Ini adalah hal penting yang perlu diperhatikan :
- Beberapa perilakuan siswa yang tidak dapat menyesuaikan diri di kelas biasanya terjadi pada masa anak- anak awal pelajaran. Siswa dewasa pun juga memiliki ketidaksesuaian diri apabila ia tidak punya pengalaman menyelesaikan masalah.
- Beberapa anak yang tidak dapat menyesuaikan diri di kelas akan terlihat sifat- sifat merusak biasanya pada umur 4 sampai 9 tahun. Namun terjadi pemunduran saat umur 10 sampai 11 tahun.
- Di atas umur 11 tahun biasanya jika ada siswa yang tidak dapat menyesuaikan diri di kelas disebabkan masalah yang ada di dalam dirinya.

Aggression in the Classroom

Menghadapi anak- anak agresif pun perlu penanganan yang khusus. Biasanya anak berumur 12 sampai 18 bulan anak- anak mulai memiliki konflik. Mereka memiliki sifat merusak. Sekitar umur 2 sampai 4 tahun agresi psikis anak menurun dan agresi verbal meningkat. Umur 7 tahun datang agresi perilakuan dan membentuk suatu sifat. Pada usia ini juga memiliki perkembangan kognitif. Lalu 7 tahun ke atas keagresifan berkurang.
Beberapa langkah terhadap anak agresif :
- Hentikan permasalahan sebelum ia benar- benar membuat masalah
- Gunakan tanda campur tangan (signal interference)
- Hindari penyinggungan suku dan status
- Perhatikan untuk efek yang tersembunyi
- Akui keagresifan kita
- Evaluasi kelas
Selengkapnya...

Kognisi Sosial

KOGNISI SOSIAL

Dalam bukunya A Theory of Cognitive Dissonance, L. Festinger mengemukakan bahwa dalam teorinya yang banyak dipengaruhi oleh teori psikologi lapangan dari K. Lewin, sector-sektor dalam lapangan kesadaran dinamakannya elemen-elemen kognisi. Eleman-eleman kognisi itu saling berhubungan yang terdiri dari tiga jenis hubungan, yaitu hubungan yang tidak relevan, hubungan yang konsonan, dan hubungan yang disonan.
Hubungan yang ideal dalam struktur kognisi setiap manusia adalah kondisi konsonan, yaitu jika antara dua elemen ada hubungan yang relevan, hubungan itu hendaknya tidak saling bertentangan. Dalam hal ini terjadi hubungan yang disonan. Jenis upaya yang pertama adalah mengubah eleman prilaku. Upaya yang kedua adalah mengubah elemen kognisi lingkungan. Upaya yang ketiga adalah menambah elemen baru kognisi baru sehingga elemen kognisi yang ada m,endapat dukungan dari elemen yang baru.

Jalan pintas mental
Dalam proses kognisi manusia sering kali menggunakan jalan pintas mental (heuristics) untuk sampai pada suatu kesimpulan atau atribusi. Jalan pintas itu digunakan untuk mempercepat proses dan menghemat energi. Dengan kata lain heuristics dalam mental digunakan demi efisiensi. Berfikir jalan pintas mengandung bahaya kesalahan penyimpulan. Walaupun demikian, hal tersebut secara otomatis biasa dilakukan karena biasanya bahasa dan tidak salah.

Baberapa faktor dalam berfikir jalan pintas :
1. Representasi
Kita harus menetapkan atribusi bedasarkan informasi yang tidak lengkap. Disinilah kita berfikir jalan pintas. Menurut rekaman informasi-informasi dalam ingatan kita.
2. Pengutamaan (priming)
Pikiran jalan pintas dipengaruhi oleh factor pengalaman yang paling baru (yang baru saja terjadi) mengenai priming ini, Erdley & D’Abortino membuat eksperimen pada dua kelompok orang. Kelompok pertama diperlihatkan tentang kejujuran, sedangkan kelompok kedua diperlihatkan ketidakjujuran. Kemudian kedua kelompok itu diminta membaca uraian yang samar-samar tentang diri seseorang dan di minta menilai bagaimana sifat orang tersebut. Hasilnya, kelompok pertama menilai orang itu jujur, sedangkan kelompok kedua menilainya tidak jujur.
3. Pengabaian rata-rata
Berbeda dengan repersentasi, pengfabain rata-rata justru tidak memperhatikan cirri-ciri yang umum berlaku. Berfikir jalan pintas disini didasarkan pada informasi khusus tentang satu orang saja.
4. Ketersediaan informasi
Jika kepada orang Amerika diberi pertanyaan mana yang lebihbesar, Indonesia atau Bali? Jawaban mereka adalah Bali, karena mereka mempunyai informasi lebih banyak tentang Bali, daripada Indonesia.

Berfikir ilusi (Illusory thinking)
Dalam psikologi, ilusi berarti kesalahan persepsi. Ilusi dalam persepsi social bersumber pada proses kognisi manusia.
1. Ilusi tentang korelasi
McFarland dkk, dalam penelitian terhadap sejumlah wanita menemukan bahwa sebagian dari mereka merasa bahwa ada hubungan antara suasana hatinya dengan siklus haid mereka. Padahal, dalam kenyataannya perubahan-perubahan suasana hati itu terjadi tanpa ada hubungannya dengan siklus haid mereka. Kesimpulannya adalah bahwa para wanita tersebut mempunyai ilusi tentang hubungan antara haid dengan suasana hati.
2. Ilusi control
Orang merasa seakan-akan ia dapat mengendalikan lingkungannya, padahal sebenarnya tidak.
3. Penilaian yang terlalu percaya diri
Ilusi kognisi ini disebabkan orang selalu ingin menilai kepercayaan-kepercayaannya, tetapi tidak mau menerima masukan yang tidak sesuai dengan kepercayaannya itu.

Aspek-aspek dasar kognisi sosial
1. Memperhatikan yang inkonsisten
Segala yang tidak konsiten lebih diperhatikan daripada yang konsisten. Dalam peristilahan Festinger, inkonsitensi inilah yang menimbulkan gisonansi kognitif. Inkonsitensi ini menyebabkan perubahan penilaian atau atribusi dalam hubungan antara pribadi.
2. Memperhatikan yang negatif
Hilang atau tidak diperhatikannya elemen-elemen kognisi yang positif akan merugikan atau mempersulit hubungan antar pribadi. Namun, kecenderungan ini sering dilakukan oranmg karena dengan memperhatikan yang negatif orang menjadi lebih waspada terhadap bahaya atau kerugian yang mungkin terjadi.
3. Keraguan karena motivasi
Teori K.Lewin, seseorang berada dalam konflik mendekat-mendekat dengan elemen A mempunyai sedikit lebih banyak valensi positif dari elemen B. Sedikit tambahan valensi positif pada elemen A sudah cukup untuk muembuat seseorang itu memilih A.
4. Berfikir kontrafaktual
Informasi konsistern atau konsonan dengan akibat perbuatan mempengaruhi pendapat seseorang. Bila awalnya kontrafaktual atau inkonsisten atau disonan membuat reaksi seseorang berbeda.
5. Pribadi anda adalah apa yang ada miliki
Kadang-kadang benda-benda tertentu sengaja dimiliki seseorang untuk menciptakan citra diri tertentu. Kecenderungan orang untuk menilai orang lain berdasarkan orang lain berdasarkan kepemilikannya ini sesuan dengan teori atribusi penyimpulan terkait, bahwa apa yang dilakukan seseorang merupakan sumber untuk memperoleh informasi tentang orang itu.


PEMBUATAN KEPUTUSAN
Salah satu fungsi yang sangat penting dari proses kognisi adalah pengambilan keputusan. Teori psikologi sosial yang terbaru sudah dapat mengitung proses pengambilan keputusan secara lebih kuantitatif. Keuntungan teori prospek ini psikologi dapat meramalkan perilaku secara lebih tepat dan dapat menyarankan kepada seseorang untuk mengambil pilihannya yang paling tepat jika kita dapat mengetahui secara akurat berbagai elemen dalan kogisi. Teori prospek (Khaneman & Tversky) adalah teori yang mendeskripsikan bagaimana individu mengambil keputusan. Menurut teori prospek, keputusan diambil melalui dua tahap, kognitif. Dalam mrngevaluasi, individu diandaikan memakai fungsi nilai yang memiliki tiga karakteristik.
1. Konsekuensi diterjemahkan kedalam deviasi dari suatu titik refrensi yang umumnya berupa status quo.
2.Individu menilai besarnya keuntungan atau kerugian berdasarkan prinsip psikofisik.
3. Respon terhadap kerugian jauh lebih ekstrim daripada respon mendapat keuntungan.
Pada prinsipnya fungsi nilai menterjemahkan konsekuensi objektif menjadi nilai subjektif dari konsekuensi. Teori prospeh juga mengajukan fungsi yang pada prinsipnya menerjemahkan probabilitas yang menyertai konsekuensi menjadi milai subjektif dari probabilitas. Dengan demikian, nilai total dari sebuah alternative adalah nilai subjektif konsekuensi dengan diberi bobot nilai subjektif dari probabilitasnya.

AFEK DAN KOGNISI
Afek adalah perasaan, jika afek ini berlangsung lebih lama dan intensif dinamakan emosi dan jika emosi ini berkelanjutan dan tak kunjung hilang dinamakan manis (kalau afeknya senang) atau depresi (kalau afeknya sedih). Kognisi dapat mempengaruhi afek sebagai rangsang dari dalam (internal stimulus), sama halnya dengan pengruh rangsang dari luar (eksternal stimulus).

Hakikat emosi
Dalam teori yang paling klasik (teori Cannon Bard) emosi timbul bersama-sama dengan reaksi fisiologik. Teori kedua adalah yang berorientasi pada rangsangnya. Reaksi fisiologik dapat saja sama, tetapi juka rangsangnya menyenangkan, namanya emosi senang, sebaliknya jika rangsangan membahayakan, emosi yang timbul dinamakan tahu (Schachter & Singer, 1962). Teori yang ketiga dinamakan teori James / Lange. Dalam teori ini emosi timbul setelah terjadinya reaksi psikologi.

Afek pengaruhi kognisi
Afek dapat mempengaruhi kognisi. Ketika afeknya positif, segalanya dalam kognisi menjadi positif. Namun, jika afeknya negatif segalanya menjadi negatif. Afek juga berpengaruh pada memori (ingatan). Afek yang positif bepengaruh pada memori tentang peristiwa-peristiwa yang positif, sedangkan afek yang negatif bepengaruh pada memori tentang peristiwa-peristiwa yang negatif.




Kognisi pengaruhi afek
Kognisi mempengaruhi afek juga melalui skema kognisi. Kalau sebuah peristiw termasuk kedalam golongan tertentu, afek yang timbul mengikuti penggolongan itu. Selain itu, simpilan dalam kognisi juga mempengaruhi afek kita. Faktor selanjutnya yang mempengaruhi afek dari kognisi adalah perkiraan atau harapan akan dampak dari perilaku tertentu.

DI INDONESIA
Teori Kognitif mungkin adalah yang paling dapat diterima untuk menerangkan perilaku sosial dibandingkan dengan teori psikoanalisis dan teori behaviorisme. Teori kognitif harus memproses segala informasi yang diterimanya dari penginderaan melalui kesadaran sebelum dijadikan respon atau reaksi. Walaupun demikian penerapan teori kognisi dalam hubungan dengan masyarakat di Indonesia harus dilakukan dengan hati-hati karena adanya perbedaan struktur kognisi pada manusia Timur dari manusia Barat. Perbedaan yang pertama adalah pada kategorisasi itu sendiri karena norma yang berbeda. Perbedaan yang kedua adalah bahwa di Timur, tidak ada batas yang tegas antara satu golongan dengan golongan yang lain, sehingga pada saat yang bersamaan dua kategori atau lebih dapat dijadikan satu. Perbedaan ketiga adalah dalam perkembangan diri “aku”. Konsekuensi dari perbedaan struktur dan isi kognisi ini adalah bahwa selalu akan terjadi kemungkinan kesalahpahaman antara dua pihak kalau masing-masing menggunakan struktur kognisinya sendiri dan mereka sama-sama tidak mengerti struktur kognisi pihak yang lain.

Kognisi Sosial
Kognisi sosial atau pikiran sosial adalah proses berpikir yang dilakukan seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain. Misalnya Anda melakukan penilaian terhadap orang yang barusan Anda temui. Termasuk dalam kognisi sosial adalah upaya Anda untuk menjelaskan diri Anda sendiri. Proses berpikir dalam kognisi sosial mencakup bagaimana seorang individu melakukan interpretasi (penafsiran),menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia sosial yang dialaminya. Begitu Anda merasakan
kehadiran orang lain, pada saat itulah proses kognisi sosial dialami. Mula-mula Anda akan mengidentifikasinya; apakah ia perempuan atau laki-laki, apakah ia anak-anak, remaja, atau orang tua, apakah ia kecil atau besar, apakah ia cantik atau jelek. Begitu seterusnya. Dari penampilannya saja, Anda sudah bisa melakukan banyak interpretasi tentang orang itu.

Anda mungkin ingat, Anda pernah bertemu dengan orang yang mirip dengannya. Maka mungkin Anda mengira mereka bersaudara atau setidaknya satu suku. Karena ia banyak senyum, Anda menyimpulkan orang itu ramah. Lalu karena Anda mengira orang itu menyenangkan, maka Anda mendekatinya untuk berkenalan. Setelah Anda ngobrol sedikit,
Anda menyimpulkan orang itu enak diajak bicara atau tidak, orang itu menarik atau tidak dan seterusnya. Pendek kata, apapun proses berpikir yang Anda lakukan jika berkaitan dengan dunia sosial adalah kognisi sosial. Secara garis besar ada dua bentuk pemahaman dalam kognisi sosial, yakni memahami orang lain (persepsi sosial) dan memahami diri (persepsi diri). Pertama, persepsi sosial. Setidaknya ada dua aspek dalam persepsi sosial, yakni
memahami perasaan, mood dan emosi yang sedang dialami orang lain, dan memahami sebab-sebab perilaku orang lain, baik sifat, niat maupun motivasinya (dikenal dengan istilah atribusi). Kedua, persepsi diri. Anda mengamati diri Anda sendiri. Anda subjek sekaligus objek. Anda menyimpulkan Anda jelek atau cantik, Anda pintar atau bodoh, Anda sukses
atau gagal adalah bagian dari persepsi diri.




Social Cognitive Theory

Teori kognisi sosial (Social Cognitive Theory) (Bandura, 1977; 1982;1986) yaitu suatu teori yang mengajukan premis bahwa pengaruh lingkungan seperti tekanan sosial atau karakteristik situasi khusus, kognitif dan faktor personal, dan perilaku adalah saling mempengaruhi secara timbal balik. Teori kognisi sosial memandang manusia tidak digerakkan oleh kekuatan dalam diri manusia itu sendiri ataupun dibentuk dan dikendalikan secara otomatis oleh rangsangan eksternal, tapi pemfungsian manusia (human functioning) itu dapat dijelaskan dalam suatu model hubungan timbal balik. Hubungan tersebut disebut Bandura sebagai Triadic Reciprocality. Individu memilih lingkungan dimana dia berada agar dia dapat terpengaruh oleh lingkungan tersebut. Perilaku dalam keadaan tertentu dipengaruhi oleh lingkungan yang pada gilirannya lingkungan itu sendiri dipengaruhi oleh perilaku individu. Perilaku individu dipengaruhi oleh faktor personal, kognitif dan pada gilirannya akan mempengaruhi faktor itu sendiri.

Maksud dari timbal balik (reciprocal) pada hubungan diatas adalah adanya tindakan yang saling berbalasan (mutual action) antara factor-faktor yang mempunyai hubungan sebab akibat yang menghasilkan efek-efek tertentu dan tidak seperti pengertian doctrinal bahwa tindakan seseorang sepenuhnya ditentukan oleh urutan sebab-sebab yang terjadi sebelumnya secara independen. Untuk menghasilkan suatu efek tertentu seringkali diperlukan banyak factor. Hubungan timbal balik berarti bahwa saling pengaruh yang ditimbulkan oleh salah satu faktor mempunyai kekuatan sama besar atau simetris pada dua faktor lain. Saling pengaruh yang timbul dalam suatu susunan ketiga faktor akan tergantung pada aktivitas yang dilakukan, individu yang terlibat dan keadaan yang terjadi. Karena kombinasi antara ketiga faktor tersebut sangat beragam, maka kondisi lingkungan itu akan menjadi determinan yang mempunyai kekuatan menolak (overriding determinant), seperti misalkan apabila orang terjatuh ke air yang dalam maka yang dilakukan setiap orang pertamakali adalah mencoba berenang, tanpa peduli bagaimana variatif dan uniknya kognisi dan perilaku masing-masing orang. Demikian juga dengan kondisi lain yang dapat menyebabkan salah satu factor menjadi dominan.

Hubungan timbal balik juga tidak berarti bahwa saling pengaruh terjadi secara simultan. Walau terjadi proses saling pengaruh dua arah yang melibatkan setiap segmen dari hubungan segitiga tersebut namun saling pengaruh yang terjadi dan efek timbal baliknya terjadi secara bersamaan. Hal ini akan disebabkan masuknya satu pengaruh yang ditimbulkan satu faktor penyebab akan memakan waktu, sekalipun terjadinya interaksi dua arah itu dalam waktu yang hamper bersamaan. Contohnya dapat dilihat pada dua orang yang saling mengajukan pertanyaan dan lainnya menjawab. Tepat setelah pertanyaan diajukan tidak akan ada respon apapun dari pihak yang ditanyai karena pengaruh yang timbul dari pertanyaan yang diajukan belum masuk ke dalam diri orang tersebut.

Menurut teori kognisi lingkungan tidak ditafsirkan secara sederhana sebagai suatu hal yang keberadaannya tetap dan tak terhindarkan oleh manusia. Lingkungan lebih dilihat sebagai sesuatu inoperative sebelum diaktualisasikan oleh tindakan yang tepat. Analogi sedrhananya misalkan yang ada arus listrik pada sebuah kabel, maka arus listrik itu tidak akan menyengat seseorang apabila orang tersebut tidak menyentuhnya. Bagian yang menjadi lingkungan potensial seseorang bias menjadi lingkungan aktual baginya tergantung bagaimana orang tersebut bersikap. Sejalan dengan itu determinan individu dalam hubungan segitiga tersebut juga inoperative sebelum diaktifkan. Ambil contoh seseorang yang mempunyai pengetahuan tertentu mengenai suatu isu yang berkembang dalam masyarakat yang secara potensial ia mampu memberi pengaruh pada pendapat masyarakat. Pengaruh itu tidak akan sampai pada masyarakat apabila orang tersebut memilih diam.

Berdasar uraian di atas terlihat bahwa perilaku ternyata turut mengambil peran dalam
menentukan bagian mana dari banyak pengaruh lingkungan yang potensial bias menjadi pengaruh yang aktual, dan dalam bentuk apa. Sebaliknya pengaruh lingkungan juga turut berperan dalam menentukan bentuk-bentuk perilaku mana yang akan dikembangkan dan diaktifkan.

Bandura mengajukan dua set pengharapan (expectation) sebagai kekuatan kognitif utama yang mendorong perilaku. Set pengharapan pertama berhubungan dengan hasil (outcome), individu lebih memilih perilaku yang mereka yakini akan memberikan hasil yang menguntungkan dan menghindari perilaku yang dianggap tidak memberikan hasil yang diharapkan. Secara intuisi manusia akan memilih apa yang dirasa akan memberikan yang terbaik bagi dirinya. Bahkan konsep paling dasar dari ilmu ekonomi pun senada dengan hal ini. Tidak terkecuali dengan perihal memilih tindakan atau perilaku. Mereka cenderung akan memilih semua perilaku yang menghasilkan manfaat terbesar baginya.
Manusia menentukan perilaku yang memberi manfaat bagi dirinya melalui pengamatan perilaku orang-orang di lingkungannya. Setelah ia berhasil menjalankan perilaku yang diinginkannya tersebut maka ia menjadi bagian dari lingkungan yang membentuknya karena ia akan menjadi preferen bagi orang lain. Kemudian lingkungan tersebut akan bersama dengan perubahan perilaku orang-orang di dalamnya secara kolektif. Perubahan perilaku orang-orang dalam lingkungan tersebut dipengaruhi juga oleh perilaku orang lain yang nampaknya akan lebih memberikan manfaat bagi orang-orang dalam lingkungan tersebut, demikian seterusnya.

Set pengahrapan kedua adalah self-efficacy yaitu keyakinan individu tentang kemampuan mereka untuk melakukan perilaku/tindakan tertentu. Individu yang merasa yakin mampu menjalankan perilaku orang-orang di lingkungannya akan lebih memilih perilaku tersebut karena ia akan merasa sama di lingkungannya atau paling tidak ia akan dapat
memperoleh bantuan dari orang di sekitarnya. Lingkungan itu sendiri akan berubah bersama-sama dengan perubahan perilaku orang di dalamnya. Perubahan perilaku orang-orang dalam lingkungan itu dipengaruhi oleh perilaku orang lain, demikian seterusnya.
Selengkapnya...

Kamis, 04 Februari 2010

Perpolitikan Muhammadiyah

Perpolitikan Muhammadiyah


Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912. Pada tahun pertama hingga saat ini begitu banyak amal ma’ruf nahi mungkar yang dilakukan oleh Muhammadiyah, hal tersebut meliputi banyaknya berdiri sekolah dari TK sampai perguruan tinggi, PKU, bank Syariah, rumah zakat, maupun mengurus masalah- masalah negara yang lain seperti membantu mengembangkan desa- desa tertinggal, maupun permasalahan politik.

Muhammadiyah berpandangan bahwa berkiprah dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan salah satu perwujudan dari misi dan fungsi melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar sebagaimana telah menjadi panggilan sejarahnya sejak zaman pergerakan hingga masa awal dan setelah kemerdekaan Indonesia, salah satunya dengan mengurusi permaslahan politik tetapi Muhammadiyah tidak praksis di dunia politik karena focus Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang melakukan gerakan tajdid. Meskipun Muhammadiyah tidak praksis mengurusi masalah politik tetapi Muhammadiyah memiliki lembaga hikmah. Lembaga hikmah bertugas melakukan kajian- kajian strategis amal ma’ruf nahi mungkar Muhammadiyah dalam konteks perkembangan politik nasional, baik politik kepartaian maupun politik kenegaraan.

Adapun tugas- tugas lembaga hikmah yaitu mengadakan kajian politik yang berkaitan dengan perjuangan umat Islam, memberi masukan pimpinan persyarikatan tentang permaslahan politik, menyelenggarakan pendidikan politik bagi kader, menyusun pedoman dan etika politik Islam sebagai panduan bagi para politisi Muslim, Melakukan advokasi terhadap kasus- kasus yang diakibatkan oleh ketidak adilan dan kekerasan Politik, meningkatkan pemanfatan media massa sebagai media politik, melakukan usaha- usaha yang berarti untuk terciptanya kesatuan politik Umat Islam, menghimpun dan mengadakan forum silaturahmi untuk kader- kader yang terjun ke dunia perpolitikan sehingga terbentuk lintas partai, melakukan kegiatan- kegiatan pemberdayaan masyarakat agar terbentuknya masyarakat madani.

Muhammadiyah tidak membuat partai politik seperti HTI, tetapi kader- kader Muhammadiyah diperbolehkan masuk kemana saja partai politik, dengan syarat menjunjung tinggi visi misi maupun identitas Muhammadiyah itu sendiri. Sehingga terbentuknya politisi yang Islami.
Selengkapnya...

PERKEMBANGAN EMOSI

PERKEMBANGAN EMOSI

Bagaimana pandangannya merupakan sekelompok dan apa yang dmaksud semuanya. Dimana norma-norma mengatakan bahwa bagaimana actor memperlakukan keberadaan roh, Tuhan-Tuhan, dan manusia, kebudayaan mengatakan actor roh, Tuhan-Tuhan dan manusia apa dan tentang apa semua itu.

Kebudayaan dan Emosi
Di sini saya akan mengatakan tentang bagaimana kebudayaan mempengaruhi emosi dan meningkatkan kepopuleran pandangannya, yang mana memberi bantuan yang lebih kongkrit cara memahami variable kerja kebudayaan. Mari kita mulai dengan Bagaimana.

Bagaimana Pengaruh Kerja Kebudayaan
Kunci untuk mempengaruhi kebudayaan yang di bentuk dan perbedaan maksud yang lebih memperoleh pengembangan mata pelajaran psikologi. Karena maksud-maksudnya, orang sampai pada pandangan dari setiap dijumpai dengan lingkungan untuk memahami apa yang sedang terjadi dan untuk merespon menurutnya., bahkan jika mereka tidak dapat mengatakan siapa yang memandu respon-respon mereka. Saya menguasai beberapa Bab dari Bab 5 ini ketika saya menganggap pertentangan antara factor-faktor biologi dan kebudayaan sosial dalam proses emosi.
D’Andrade (1984) telah menawarkan uji peneliatian dari dua cara yang bertentangan dari tinjauan cara kebuyaan mempengaruhi orang yang bersosialisasi. Di satu pihak, ini menyatakan bahwa orang merasa tertekan untuk mengikuti perintah kebudayaan. Ini mengartikan kebudayaan dalan sebuah cara Skinnneran sebagai sebuah kelompok tuntutan dari luar, yang mana sebagai Spiro (1961) telah menunjukkan sebuah ketidak individuan (akhirnya dia mengatakan “antipsychological”) posisi karena pendapat yang menguatkan norma-norma kebudayaan semata-mata merupakan hasil dari sangsi masyarakat eksternal dan bukan hasil dari dorongan dari dalam untuk mengadu. Sebaliknya teori, yang lebih mumusatkan secara pskologi dan keindividuan, merupakan kekuatan dari kelangsungan yang lebih eksternal yang yang seorang individu timbulkan., pada bagian ini, dari keinginan untuk menyesuaikan diri untuk melakukan apa dan mengatakan apa.
Alfred Adler (1927) akan menekankan di awal tulisannya, respon pertama kitamerupakan panitia masyarakat yang mana sebagai seorang anak dan remaja kita semua berharap dan membutuhkan permulaan dan mendorong orang tua untuk mempertahankan hidup dan hidup dengan subur. Dalam tulisannya selanjutnya, walaupun demikian, Adler mengubah penekanannya untuk munjelaskan pylogenetic seperti sisiobiologis moderen., yang mana menunjukkan nilai penyesuaian diri dari keinginan bawaan lahir untuk bersama dengan yang lainnya, karena pertahanan hidup difasilitasi oleh penambahan kekuatan yang di kembangkan oleh sebuah kelompok.
Teori pertama tentang sangsi sebagai pendorong utama tak sempurna, karena sumber dariluar dari kekuatan pada diri mereka mengoprasikan sepanjang kesuksesan mode pengaturan masyarakat, dan ketika mereka melakukan, ini waktu yang paling umum masyarakat secara luas, korupsi politik, dan ketidak fungsian. Keberadaan iklim di dunia kita, seperti kita mendekati abad ke 21, ada seorang pengunjuk rasa luarbiasa dari jangka waktu panjang lebih memaksa kekuatan di bagian orang-orang Eropa tengah di mana menyerukan dengan suara keras untuk kebebasan, dan demokrasi, dan kemakmuran ekonomi. Hanya satu abad atau awal-awal saja., keruntuhan kerajaan yang angkuh dari Eropa Barat memberikan contoh kegagalan pemerintahan untuk memanifestasi perusahaan yang cukup untuk kebaikan dari kota-kota biasanya. Jika apa yang menjadi saat yang singkat dalam sejarah, atau permulaan dari sebuah perintah dunia baru, kita dapat melihat dengan jelas kegagalan terakhir dari kekutan luar sendiri seperti sebuah cara untuk menghasilakan sebuah keselarasan ketidak persetujuan yang layak, berpikir pada tulisan penolakan Pemerintahan Cina, dan anggota yang lainnya, untuk meninggalkan paksaan oleh lengan, perawatan, dan kerahasiaan polisi-kesementaraan yang kita harapkan-sebuah halangan untuk pernyataan yang tegas.
Keinginan untuk menyesuaikan diri dan mwempercayai kebuadayaan, yang mana sumber utama dari masyarakat dan stabilitas politik, telah ada sedikitnya tiga dasar motivasi: hadiah perseorangan secara langsung, dalam negeri dari sekelompok nilai-nilai kebudayaan yang utama, dan kekuatan kelompok untuk menghukum individu untuk pelanggaran. Criminal merupakan orang yang menyimpang karena jahatnya berdasarkan dari masyarakat karena mereka gagal untuk menginternalisasi nilai-nilai masyarakat.
Kebudayaan berpengaruh pada perkembangan perseorangan menjadi percxaya diri ketika kita membandingkan cara orang berpikir, merasakan, dan perbuatan dalam masyarakat yang berbeda. Ini sulit, meskipun demikian, untuk memisahkan perseorangan dan kebudayaan; kebudayaan hanya dapat diketahui oleh referensi untuk contoh pemikiran, perasaan, dan perbuatan yang di bentuk oleh anggota masyarakat, yang mana dapat dikatakan menjadi sebuah jenis dari kelompok perseorangan. Keterlibatan ketidak setujuan dari alasan yang menyelubungi, maksudnya kita mendefinisikan kebudayaan dengan membentuk cirri-ciri perorangan dari orang-orang itu sendiri dan perseorangan denganreferensi yang berbeda untuk nilai kebudayaan dari dalam negeri.
Dalam memikirkan kembali pemecahan masalah tang baik dari sulitnya mendapatkan perhatian untuk proses sementara di mana seorang anak, lahir dalam sebuah masyarakat dengan kebuadayaan tertentu, memperoleh, dan mengerti kebudayaan dalam negeri. Jika kita memikirkan pola kebudayaan seperti yang ada sebelum anggota masyarakat yang tiba dalam pemandangan, kita dapat memahami cirri-ciri tipe perorangan dari orang yang tinggal dengannya sebagai hasil dari sosialisasi atau akulturasi- maksudnya, seperti akibat dari pertumbuhan, dan menyesuaikan kebudayaan. Meskipun demikian, tanpa belajar dalam waktu lama, ini adalah thesis yang sulit untuk di tingkatkan. Untuk menguji pengaruh kebudayaan pada perkembangan perseorangan dengan data berdasarkan yang kita tuju, celakanya, untuk bergantung hanya pada belajar sekali dari orang-orang yang berbeda kebudayaan (lihat, cotoh, Benedict, 1934, untuk penelitian kebudayaan orang-orang India dari Inggris Barat daya; dan Shweder & LeVine, 1984, untuk yang lainnya, penelitian paling baru).
D’Andrade (1984, p. 100) menawarkan mengikuti ringkasan analisisnya dari masalah kebudayaan dan perseorangan, yang mana ekspresi yang baik milik kita sebagai berikut:
Posisi umum yang ada di sisni merupakan maksud yang melibatkan jumlah fisik manusia, bukan hanya bagian dari kita yang mengetahui sesuatu. Setiap aspek maksud system-sistem diperoleh dengan proses psikologi terbaik dan sering prcobaan utama. Itu menhabiskan beberapa tahun pembelajaran untuk seorang anak untuk memperoleh keberadaan kembali fungsi-fungsi maksud system tersebut. Pnghadiran kembali terjadi hanya karena symbol-simbol mengaktifkan proses psikologi secara komplit. Pada cara yang sama, itu menghabiskan beberapa tahun pembelajaran untuk seorang anak untuk memperoleh pengembangan, kelangsungan fungsi-fungsi system yang di maksud, dan fungsi-fungsi ini juga memperoleh proses psikologi secara komplit. Penghadiran kembali, penyusunan, dan kelangsungan fungsi-fungsi masing-masing pengaruh dari cara otak orang mengorganisasikan, kemampuan biological dan psikological yang tinggi yang dirangsang oleh maksud system kebudayaan.
Bagaimana melakukan kebudayaan berdasarkan pengaruh maksud system pemahaman individu kita dari hubunnujugan manusia? Untuk membantu menjawab ini, D’Andrade mengasilkan kembali sebuah cerita sederhana dari Schank dan Abelson (1977). Menduga satu bacaan sebagai berikut: “Roger ingin ke rumah makan. Dia memesan coq au vin. Penunggu tentu saja dan menuju meja sebelah kanan selanjutnya membayar dengan kes. Roger mendapatkan tip”(D’Andrade, 1984, p. 103). Sekarang pembaca harus menjawab beberapa pertanyaan tentang perubahan sosial dalam cerita, seperti “Apa yang Roger makan? Kepada siapa Roger memberi pesanannya? Di mana Roger duduk? Apakah Roger suka rumah makan? Untuk apa tip itu?”.
Menurut Schank dan Abelson, D’Andrade menunjukkan bahwa tah ada jawaban yang jelas mengenai cerita itu. Belum, karena kita mengetahui banyak tentang kebudayaan yang mana terjadi perubahan sosial, pertanyaan yang mudah untuk di jawab. Sebagai contoh, kita mengetahui bahwa seorang pelanggan di sebuah restaurant biasanya menuju ke meja, memberi pesanan untuk penunggu, dan makan apa yang dipesan dan kepuasan atas layanan dapat di tunjukkan oleh sisi tip. Jika penunggu dan sekitarnya tidak menyenagkan, kepuaan merupakan persetujuan dan tempat duduk yang berdampingan untuk pembayaran dengan kesbiasanya tidak memuaskan. Tanpa seperti kebudayaan berdasarkan informasi, banyak cerita yang tidak dapat diterjemahkan. Di lain pihak, cerita merupakan perolehan maksud tanpa penambahan informasi untuk kita yang hidup di berbagai kebuadayaan, karena informasi akan dengan segerakita pahami dan kita mengambilnya untuk sokongan.
Banyak betuk pesan kebudayaan yang dioperasikan dalam kesimpulan kita ampu untuk menggambarkan dari berbagai konteks sosial dengan yang mana telah kita laksanakan. Pengalaman kita dan pemahaman emosi dalam diri kita dan lainnya dalam situasi sosial pada dasar yang sama. Pengalaman emosi merupakan wujud sebenarnya kebudayaan, dan di berbagai penghormatan berdasarkan pada bentuk umum sebaik maksud pribadi.
Dalam percobaan untuk mendefinisikan pertanyaan tentang bagaimana pengaruh kebudayaan terhadap emosi, K. G.Heider (1991) memulai buku ini pada emosi dalam tiga kebudayaan Indonesia dengan pentingnya sebuah seri pertanyaan dalam belajar kebudayaan dan emosi. Kita berkata tentang bagaimana kebudayaan mempengaruhi emosi and meneliti perbedaan bahasa memiliki perbedaan kata untuk emosi. Timbulnya pertanyaan seberapa banyak perilaku emosi (dan satu harus ditambah pengalaman emosi) merupakan variable kebudayaan. Seperti contoh, seberapa banyak overlap yang ada ketika Orang-orang Amerika mengguanakan bentuk marah dan orang Indonesia menggunakan bentuk marah – pertanyaan itu muncul sebuah anggota pertanyaan lain tentang bagaimana dengan orang-orang yang berbeda kebuadayaan, berbicara, berpikir, perasaan, dan menunjukkan emosi. Apakah sisi dari suku kata emosi dari kebudayaan ke kebudayaan? Apakah ada keunikan emosi dari kebudayaan? Apakah sebab dari emosi berasal dari satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya? Apakah perbedaan ekspresi muka yang di gunakan untuk emosi yang sama di kebudayaan yang berbeda, dan jika begitu, bagaimana kita memahaminya?
Apa jawaban anthropological untuk pertanyaan Heider tentang bagaimana proses emosi dipengaruhi oleh kebudayaan? Dua cara utama yang telah diusulkan: (1) variable kebudayaan mempengaruhi emosi-emosi yang akan menjadi pengalaman dari maksud seseorang dan arti untuk menawarkan yang baik, yang mana konsekuaen dengan penekananku. (2) variable kebudayaan memepengaruhi bagaimana emosi, satu-satunya yang dihasilkan, apakah aturan dan pengekspresian masyarakat; yang mana konsekuen dengan konsep pertunjukan peranan.
Heider menulis pengaruh jenis pertama, pada proses menghasilkan emosi, seperti pengertian kebuadayaan dari kejadian yang menyebalkan, yang mana hubungan antara kejadian dan reaksi emosi. Pengaruh poin ke dua, anatara status dalan emosi dan penelitian yang datang dari luar dalam tingkah laku dan ekspresi, menerangkan bahwa kebudayaan mempunyai jumlah reaksi atau menunjukkan peranan dan meniru prosesnya yang manadioperasikan antara status dari dalam dan tingkah laku.
Levy (1973) membuat dasar hubungan yang sama tetapi ekspresinya berbeda antara peranan susunan dan peranan keteraturan. Dia telah belajar contoh emosi Tahitians, yang nenunjukkan marah untuk dipertemukan gossip, instruksi untuknya, karena Tahitians berhati-hati dalam marah. Rasa marah ditunjukkan dengan sebuah senyuman, atau ekspresi pura-pura bahagia. Ini menunjukkan gambaran peranan susunan, yang mana Levy cemderung menekan. Tentang itu dia menulis (1973, p. 287):
Doktrin tentang marah dan bengis……mengikuti strategi untuk meniru marah; tak berusaha untuk masuk ke dalam situasi yang akan membuat kamu marah. Jangan menganggap sesuatu dengan serius atau menarik kembali jka memungkinkan. Jika orang lain marah kepada mu, jaganlah berusaha untuk menyuruhnya marah-marah. Jika kamu melakukan dengan kemarahan, bagaimanapun, ekspresinya dengan berbicara denagan kemarahan mu, maka sesuatu dapat di benarkan dan kamu tidak akan marah-marah. Ekspresi kemarahanmu, jika memungkinkan, dengan verbal dari pada maksud fisik. Juka kamu menggunakan maksud fisik untuk menggunakan symbol perbuatan, jangan sentuh orang. Jika kamu menyentuhnya, hati-hatil jangan sakiti dia.
Saya suka peranan sususna dan keteraturan bahasa yang digunakan Heider, dan akan menggunakannya di sini. Levy (1973, 1978, 1984) kelihatnnya percaya bahwa status emosi dalam diri sedikit berbeda dipengaruhi oleh kebudayaan- maksudnya, dengan peranan susunan- karena universal biological. Seperti contoh, kematian seorang anak mungkin diartikan sebagai kesediahan di hamper semua kebudayaan, dan kesedihan biasanya di ekspresikan dengan wajah sedih menangis. Namun, reaksi ini mungkin menurut dengan maksud khusus kebudayaan yang engoprasikan antara kejadian terdahulu dan emosi pengalaman prbadi. Ini merupakan, akibat, pengaruh susunan. Jika, seperti contoh, kematian merupakan kkepercayaan kebudayaan untuk menjadi hasil ilmu sihir, reaksi pribadi menjadi marah dari pada sedih; tetapi jika anak-anak yang telah diambil secara langsung ke surga, kebudayaan berdasarkan maksud menunjukkan kebahagiaan dari pada sedir atau marah.
Saya mempunyai pokok pembicaraan (dalam Bab 5) ketertarikan Levy mengamati tentang kesedihan dan kesalahan seperti “hypocognized” dalam kebudayaan Tahitian dan marah dan perasan malu seperti “hypocognized” Dia membicarakan itu sebagai respon kebudayaan yang bersifat teratur untuk masalah sosial di tempatkan dengan emosi manusia. Emosi-emosi merupakan ketertarikan utama para ahli antropologi karena mereka cenderung bertingkah laku, berpikir, dan system-sistem arti. Di lain kata, untuk Levy emosi tidak banyak di bentuk oleh kebudayaan seperti diri mereka mempengaruhi bagaimana kebudayaan bersama dengan mereka.
Di berbagai cara, tinjauan Levy umum untuk apa yang saya punya di katakana di Bab 5 tentang inti hubungan pembentukan respon emosi, karena mereka merupakan universal biological. Di lain kata, satu-satunya yang kita nilai bahwa identitad ego kita telah dipertinggi, namun, saya juga menerangkan bahwa kebudayan mempengaruhi arti. Peranan biologis selalu dioperasikan, tetapi hubungan antara maksud dari yang dihadapi menekankan pada definisi kebudayaan.
Penelitian antropologi dan pikiran pada emosi baru-baru ini telah di tinjau kembali oleh Lutz dan White (1986). Tentang cara kebudayaan mempengaruhi emosi, pengarang ini menekankan, seperti yang saya lakukan, “bagaimana orang membuat sadar akan kejadian hidup” dari pada lebih dangkal pola perilakunya. Di sebuah instruksi analisis, mereka menyangga empat cara yang memungkinkan dimana maksud kebuadayaan dan memainkan peranan struktur sosial dalam pembentukan emosi.
Ada beberapa pusat susunan peranan dan yang lainnya pada keteraturan peranan:
1. Kebudayaan tentu menekankan masalah kehidupan dan menekankan yang lainnya. Pengarang menunjukkan kesensitifan orang-orang Jepang untuk kelompok sosial seperti sorang peserta pada kesalahannya, pengalaman yang kurang sebagai sebuah perubahan untuk menjadi lebih, dan orang-orang Aameriak utara menitik beratkan pada apa kesalahan yang di katakana tentang satu-satunya karakter.
Contoh-contoh ini memperlihatkan pada ku untuk mengahdirkan kembali susunan perananpembentuk emosi itu sendiri.
2. Pengartian kebadayaan didefinisikan masalah kehidupan dengan teliti- sebagai contoh, apa hubungann bahaya, sesuatu yang buruk telah ada, atau kehialangan, dan jika perawatan merupakan pengaturan. Juga sebuah susunan peranan, saya piker.
3. Perbedaan kebudayaan bersama dengan ketidaktentuan antara kemarahan dari kode sosial dan apa yang akan dihasilkan, itu mendefinisikan apa yang dapat membenarkan marah, takut, dan kekaguaman. Semua orang membutuhkan belajar bagaimana yang lainnya akan merespon untuk bagaimana kita berbuat dan apa yang harus kita katakana dan rasakan. Hochschild (1979) mengatakan ini sebagai “feeling rule”. Kedua peranan ini; mereka harus melakukan dengan perbuatan sosial yang membuat mereka marah, atau bagaimanapun, sebaik ekspresi dan penindasan. Guttfreud (1990) juga mendokumentasikan bahwa ketika orang pendatang dari daerah Spanish berbicara dengan bahasa di daerah mereka, dari pada bahasa Inggris, mereka lebih mengekspresikan emosi dari pada mereka meniru bahasa mereka, secara tidak sengaja berbeda dalam susunan peranan dari masing-masing kebuadayaan.

Dengan mempelajari sembilan kelompok kebudayaan, Triandis et al menemukan sejumlah cross cultural (lintas budaya), perbedaan psikologi yang berasal dari tema tersebut. Sebafgai contoh, integritas keluarga, yang terdiri dari hubungan baik antara orang tua dan anak-anak, lebih tinggi dalam kebudayaan collectivisme; ketergantuangan, berupa bantuan salah satu anggota keluarga ketika sedang dibutuhkan, tinggal dekat dengan rumah temah, dan berinteraksi dengan mereka secara terus menerus lebih tinggi dalam kebudayaan kolektivisme, dan perpidahan dari ingroups lebih sering terjadi dalam kebudayaan individualism. Kepercayaan diri dan hedonism, juga lebih tinggi dalam kebudayaan individualism. Perbedaan nilai terjadi antara orang Amerika dan Jepang, yang ditunjukkan ketika orang Aamerikan mengatakan ban yang berdecit-decit kurang pelumas, namun di Jepang mereka mengatakan bahwa nail sticks out gets pounded down.
Terkait dengan perbedaan individu, individu yang alocentric lebih sering menerima dan mempunyai dukungan social yang lebih baik daripada individu egosentrik, yang dilaporkan lebih senang menyendiri daripada alosentrik. Meskipun penulis tidak mempelajari mengenai emosional secara langsung, dalam dalam hipotesis disebutkan mengenai pengalaman social dalam kebudayaan yang bisa merugikan, dan menghipotesiskan mengenai perbedaan emosional yang relevan dalam kepribadian sebagai hasil internalisasi selektif.
Ada beberapa penelitian kebudayaan dan psikologi yang difokuskan pada perbandingan system arti beberapa kebudayaan. Penelitian ini tidak direview disini, namun perlu disebutkan secara umum. Beberapa contoh dari peneliti yang lain sebagai contoh observasi D’Andrade (1984) mengenai arti keberhasilan dalam kebudayaan Amerika; Rosaldo (1980; 1983) dan yang lainnya difokuskan di Asia dan Amerika (contoh Ausubel, 1955; penelitian dan analisis oleh Marsella, dan kawan-kawan mengenai kebudayaan dan emosi, mementingkan diri sendidi, coping, dan fenomena lainnya, meliputi Marsella, DeVos, & Hsu, 1985; Marsella Kinzie & Gordon, 1973; Marsella, Murray,& Golden, 1974; Marsella & Scheuer, 1988; Marsella, Tharp & Ciborowski, 1979); pengujian sifat malu, salah, kemarahan dan depresi antara orang Jepang dan orang barat, Amerika Kaukasia, Amerika keturunan China, Amerika keturunan Jepang dan Ilongost Jawa; penelitian oleh Hamington, Blumenfeld, Akoh dan Miura (1990) mengenai penerimaan kesalahan antara anak-anak Amerika dan Jepang; review penelitian Ryff (1987) mengenai perbedaan masyarakat, yang terdidi dari Jepang, Amerika, Cina dan India; penelitian kepribadian Church (1987) di Filipina, penelitian Orang Amerika-Asia oleh Sue dan Sue (1987); dan penelitian Florian dan Snowden (1989) mengenai alasan takut akan kematian orang Amerika keturunan Vietnam yang dibandingkan dengan kelompok etnik di Amerika (seperti orang-orang Cina, Meksiko, Orang kulit hitam, orang kulit putih dan orang Yahudi). Mereka menyimpulkanbahwa orang Vietnam mempunyai kecenderungan kehilangan identitas social dan konsekuensi kematian terhadap keluarga dan teman yang lebih banyak daripada kelompok lain, dan hal tersebut berhubungan dengan perbedaan kurangnya arahan dan pemenuhan dalam kehidupan mereka, yang merupakan kondisi mengakar yang disebabkan karena Perang Vietnam.
Shweder (1985) juga melakukan penelitian mengenai pola depresi lintas budaya. Dia menemukan enam aspek penting dalam proses emosi: tipe emosi yang dialami, situasi emosi, kepribadian dan arti social emosi yang dialami, bagaimana emosi diungkapkan, peraturan social mengenai emosi dan penunjukkannya, manajemen emosi yang tidak diungkapkan, atau apa yang telah saya katakana di Bab 3 sebagai emosi yang terfokus atau coping cognitive.
Menurut saya sangat jelas, bahwa kebudayaan merupakan pengaruh yang kuat dalam emosi kita. meskipun demikian, usaha masyarakat untuk mengatur emosi akan memberikan pengaruh, jika tidak maka akan membentuk emosi kemudian ekspresi sosialnya. Mengenai hal tersebut tidak banyak argument yang ditunjukkan. Jika ada, argument tersebut hanya mengenai variable apa dalam proses emosi yang dapat mempengaruhi, dalam hal apa dan seberapa besar. Saya menawarkan sekumpulan sumber logika dan sosiokulturan, dan memberikan beberapa contoh dalam cara yang berbada mengenai pengaruhnya dalam kebudayaan.

Kebudayaan dan Penilaian
Dengan mendiskusikan dan mengilustrasikan cara kebudayaan mempengaruhi kehidupan emosional, penting untuk menghubungkan, apa yang telah dikatakan mengenai proses penilaian dengan penentuan komponen penilaian dalam bab 6 dan 7 untuk setiap emosi individu. Kebudayaan mempunyai pengaruh dalam hal hokum dan peraturan pada tujuan yang ingin kita capai. Meskipun perbedaan mengenai emosi apa yang dialami dari apa yang ditunjukkan sebagai contoh, pembaca akan memahami, sangat sulit (masalah yang saya diskusikan dalam bab 2), saya membuat usaha disini untuk menguji bagaimana kebudayaan mempengaruhi komponen penilaian.
Ada tiga komponen dasar penilaian yaitu tujuan yang relevan, tujuan yang kongruen dan tidak kongruen, dan tipe keterlibatan emosi. Individu tersebut berbeda antara yang satu dengan yang lain, menurut saya kita harus berpikir bahwa kebudayaan mempengaruhi nilai, tujuan dan hirarki tujuan anggota yang memperoleh dan mengespresikannya, meliputi identitas ego mereka.
Jika seseorang menilai bahwa tujuan merupakan sesuatu yang relevan akan tergantung pada hirarki tujuan orangtersebut dan konteks social yang dihadapi. Relevansi tujuan berarti potensi emosi yang kuat. Pertimbangan, sebagai contoh, jika atau dalam hal apa luka atau gejala medis menunjukkan kesehatan yang membutuhkan perhatian media dan mengenai penyakit seperti kecemasan, kemarahan dan depresi. Apa yang kita ketahui mengenai gejala penyakit yang serius akan mempunyai perbedaan yang mencolok.
Meskipun demikian, kita tahu dari perbandingan lintas kebudayaan yang saya diskusikan sebelumnya bahwa orang Yahudi dan Amerika-Italia menganggap sakit dan gejala berbeda dengan pendangan ‘Amerika Kuno’. Belum jelas bahwa sakit menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan bagi orang Yahudi dan Italia daripada Amerika kuno dalam hal konstitusi atau sesuai dengan peraturan. Yang lebih menarik adalah observasi klinis oleh Kleinman (1988), seperti yang disebutkan sebelumnya, arti sakit dipahami dalam konteks riwayat kehidupan seseorang dan signifikansi individumengenai apa yang terjadi dengan nilai, kepercayaa, tujuan hidup dan identitas ego seseorang.
Sebagai tambahan untuk mempengaruhi tujuan relevansi, perbedaan kultur juga mempengaruhi tujuan yang tidak kongruen, sebanyak masalah yang timbul untuk komponen penilaian ini baik penting maupun tidak penting, tujuan tersebut merugikan atau mengancam. Dengan mempertimbangkan contoh lain dari penelitian lintas budaya yang terkait dengan anak-anak Jepang maupun Amerika. Kita melihat bahwa anak-anak Jepang tangkas dalam memahami kemarahan yang ditunjukkan oleh ibunya daripada anak-anak di negara Amerika, yang bagi mereka kemarahan merupakan sesuatu yang biasa. Salah satu tujuannya adalah untuk memuaskannya. Anak-anak Jepang mudah memahaminya sebagai hasil dari komitmen ibu terhadap hubungan simbiosis yang dikembangkan oleh keikutsertaan atau sifat lemah lembut, takut mengecewakan ibunya. Perbedaan kultur (kebudayaan) meningkat dengan adanya komitmen yang kuat dari ibu di Amerika yang mendorong sifat individualistic.
Tipe keterlibatan ego dalam penilaian bayi dan balita di Jepang dan Amerika berbeda sebagai hasil dari pola ciri ego yang menekankan pada dua kebudayaan. Sebagai contoh, perbedaan dua kebudayaan dalam komitmen terhadap individu (pandangan Amerika) versus masyarakat, seperti keluarga atau bangsa (pandangan Jepang). Anak-anak Jepang harus menempatkan egonya lebih rendah dari kelompok; sedangkan anak-anak Amerika harus mengembangkan identitas kemandirian yang mampu bersaing dengan kelompok lain.
Dalam cerita Jepang dimana konflik antara sepasang kekasih dan harapan akan keluarga atau peraturan sosial, akibatnya adalah tragedy percintaan dan penyesuaian dengan masyarakat. Orang-orang Jepang mempunyai perasaan akan kebenaran dan menikmati kemenangan masyarakat terhadap individu. Dalam cerita Euro-Amerika dengan konflik yang sama, banyak pasangan yang membatasi harapan keluarga dan peraturan sosial, dan kita mempunyai perasaan mengenai kebenaran dan menikmati kemenangan individu melawan dunia. Bagi kita, konflik merupakan akhir dari tragedy, seperti dalam cerita Shakespeare Romeo and Juliet serta Leonard Bernstein’s West Side Story. Dari kedua kasus tersebut, masyarakat Jepang dan Amerika, pecinta menjadi ‘bintang’ yang terjebak dalam tragedy yang mereka ciptakan sendiri, symbol masalah dalam masyarakat; bahkan dalam kematian, nilai individu seperti kemenangan dalam adapt Amerika dan nilai masyarakat di Jepang. Konsekuensi dari semua ini adalah bahwa skenario menimbulkan kemarahan atau kecemasan, serta emosi ini direspon oleh orang yang mengalami dan mengamatinya, berbeda antara dua kebudayaan tersebut.
Meskipun saya tidak sadar akan jangka waktu penelitian ini, pemenuhan ditekankan pada anak-anak Jepang yang merasa gelisah daripada marah dalam situasi persaingan individual, sedangkan anak-anak Amerika dalam situasi pertandingan lebih ditekankan pada kemarahan. Perbedaan ini dapat berlangsung baik melalui proses konstitutif maupun proses regulative, atau bahkan keduanya. Sebagai contoh, sangat memungkinkan untuk kedua kebudayaan tersebut menjadi gelisah dan marah, namun orang Jepang merasa tidak nyaman dengan kemarahan dan menekan perasaan tersebut, sedangkan orang Amerika merasa tidak nyaman dengan kegelisahan dan menekan perasaan gelisah tersebut. Kita tidak tahu dalam hal apa pandangan tersebut mengubah emosi yang dialami, atau jika mereka mempengaruhi ekspresi atau penunjukkan.
Analisis yang sama juga dibuat untuk komponen penilaian kedua yaitu kesalahan dan hukuman, potensi coping, dan ekspektasi masa depan, yang juga dipengaruhi oleh kebudayaan baik konstitutif maupun ekspektasi. Sebagai contoh, siapa yang mendapat kesalahan dan diberi hukuman? Meskipun saya tidak tahu perbandingan penelitian secara eksplisit, orang Tahiti (Levy, 1973, 1984), yang waspada terhadap kemarahan dan yang doktinnya menekankan pada penghindaran situasi kemarahan dan agresi fisik, cenderung menghindari kesalahan daripada kita yang ada di Amerika, dimana eksternalisasi kesalahan merupakan sesuatu yang umum. Dan orang-orang Jepang, yang menganggap negatif kebanggaan daripada orang-orang Minangkabau (Heider, 1991). Dengan cara yang serupa, di Jepang orang menghindari pujian salah satu anggota, kita merasa heran bahwa kredit dan pujian disana malah di hindari dalam manifestasi sosial.
Terkait dengan potensi coping, kebudayaan apa yang sesuai yang dapat mempengaruhi pola tersebut dan bagaimana kita menanggapi secara emosional orang lain yang bertindak dengan kita dalam hal constitusi, dan bagaimana kita mengekspresikan emosi yang dapat mempengaruhi peraturan. Pendekatan orang Tahiti dalam kemarahan merupakan contoh yang berguna. Pengasingan kebudayaan adalah untuk mengatasi kemarahan dengan menghindari situasi yang dapat membuat marah, dengan menghina orang lain dan dengan mengekspresikan kemarahan, jika harus namun tidak verbal, bukan fisik. Pernyataan tersebut bagi saya seperti nilai kelas menengah mengenai kemarahan dan agresi, yang diilustrasikan pada bab 1 dengan skenario mengenai bagaimana film Barat berlangsung; ini juga lebih sedikit menerapkan kelas pekerja atau kebudayaan dan sub kebudayaan dengan ideologi laki-laki yang menunjukkan bahwa penting untuk bertindak dengan secara fisik yang agresif untuk mencegah identitas ego seseorang.
Terkait dengan ekspektasi masa depan, kami memperoleh dari kebudayaan sekumpulan kepercayaan mengenai pengaruh pemerintahan di dunia – sebagai contoh, keberuntungan, nasib, Tuhan, kecerdasan dan keterampilan manusia. Ekspektasi ini juga dipengaruhi oleh peraturan dalam masyarakat – ancaman dan sanksi – dan bagaimana mereka bekerja. Dalam kebudayaan dan sub kebudayaan yang menekankan pada takdir (orang-orang Hindu di India, sebagai contoh), kita memperkirakan reaksi emosi yang berbeda terhadap hasil tujuan yang penting daripada kita di kebudayaan industri Barat dengan penekanan pada pengendalian dan tindakan melawan keadaan yang negatif. Di Asia, penolakan material dan orientasi ego sangat ditekankan. Sebagai contoh, ekspektasi masa depan kelompok yang mempunyai kebudayaan pesimistik dibandingkan dengan mereka yang mempunyai pandangan yang optimistic, atau perbandingan antara pandangan Tuhan sebagai hukuman dan semangat atau sebagai ampunan.
Kesimpulannya, meskipun banyak penelitian yang ditujukan untuk penelitian komponen penilaian ini kurang, terdapat penjelasan mengenai latar belakang ekspektasi kebudayaan untuk mempengaruhi keenam komponen penilaian baik dari segi konstitusi maupun regulative. Pengalaman emosional dan karakteristik ekspresi anggota masyarakat berbeda dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Yang paling sulit adalah perbandingan proses emosi terhadap kebudayaan baik yang diketahui maupun yang belum diketahui. Nilai kultur kebudayaan mendefinisikan tujuan – baik pengaruh biologi maupun pengaruh sosial – sebagai konflik yang tidak diterima. Tujuan yang tidak kongruen sebagai contoh, penelitian oleh Freud mengenai seks dan agresi. Hanya sedikit orang yang meneliti secara empiris, karena hambatan interpersonal dan bahasa, sehingga cukup untuk mengetahui mengenai lintas kebudayaan yang diketahui dan yang dilaporkan.

Struktur Sosial dan Emosi
Mereka yang menekankan pada struktur sosial memfokuskan pada perhatian mereka pada fungsi hubungan peran yang ada dalam lingkungan sosial, sebagai contoh, dalam lingkungan kerja atau keluarga, dimana banyak terdapat tekanan, peluang dan ekspektasi sosial. Penelitian pioneer Goffman (1959, 1971) mengenai manajemen pengaruh yang dipusatkan pada peraturan yang dioperasikan dalam beberapa jenis interaksi sosial. Dia mendeskripsikan secara mendetail bagaimana orang mengatur emosi mereka dan strategi yang digunakan untuk menangani emosi tersebut.
Untuk mengetahui pengaruh emosi serta ekspresi emosional, Honchschild (1979) menggunakan kata ‘peraturan perasaan (feeling rules)’ dan ‘kerja emosi (emotion work)’ yang merupakan perluasan dari kata display rules yang dikemukakan oleh Ekman dan Friesen (1969; lihat juga Ekman, 1977). Ini merupakan perluasan karena kata feeling rules didesign dengan penekanan tidak hanya pada cara kita mengatur ekspresi eksternal emosi, seperti ketika orang Jepang berusaha untuk merasa gembira bahkan ketika mereka merasa sedih karena kehilangan seseorang, karena mereka tidak ingin orang lain ikut terbebani dengan kesedihan mereka, namun mereka juga berusaha untuk merasakan apa yang kita rasakan dalam situasi tersebut. Menurut Honcschild, orang ‘psych themselves up’; ‘menghentikan kemarahan mereka’; ‘berusaha untuk gembira’; dan ‘membiarkan mereka untuk merasa sedih’ tanggapan mereka terhadap peraturan perasaan. Inilah yang dimaksud dengan emotion work. Dalam bahasa penilaian, untuk mempengaruhi bagaimana orang mengekspresikan emosi mereka, peraturan perasaan juga mengatur emosi secara langsung dengan cara mempengaruhi bagaimana orang menilai masalah yang dihadapinya.
Peraturan perasaan dan peraturan penunjukkan emosi mempengaruhi emosi kita, khususnya ketika merasa sedih dan juga senang, dan kebalikannya, ketika kita merasa buruk atau lebih baik daripada yang kita alami, atau ketika ita merasa sesuatu yang lama atau sebentar daripada yang seharusnya. Bahkan ketika peraturan tersebut lebih eksplisit daripada implicit, mereka merupakan bagian dari susunan sosial dan sanksi mengenai bagaimana kita menghadapinya, dan juga dalam emosi kita serta ekspresi sosial mereka.
Kita tidak hanya menyesuaikan reaksi kita yang sesuai dengan peraturan sosial, kita juga menginternalisasi peraturan tersebut dan meyakin bahwa sesuatu yang salah merupakan akibat dari kesalahan kita dalam emosi aktual. Oleh karena itu, peraturan perasaan tidak hanya tersituasi namun juga dapat menjadi bagian dari kepribadian kita, yang diterapkan dalam kebudayaan yang berhubungan dengan perkembangan kepribadian. Kadang-kadang terdapat konflik yang dialami oleh orang karena tekanan sosial dipandang sebagai eksploitasi, seperti ketika pramugari atau pramugara atau personil lainnya, diharuskan untuk tersenyum dan ramah kepada customer meskipun mereka sedang merasa sedih. Dalam penekanan eksploitasi economic mereka harus bertindak tidak sesuai dengan apa yang mereka rasakan – terkait dengan konsep Marxian – Hochschild hanya mempertimbangkan efek negatif tekanan sosial.

Bagaimana Struktur Sosial Bekerja
Bagaimana masyarakat, dengan peraturan perasaan, mempengaruhi emosi? Dari hasil penelitian sosial psikologi pada tahun 1930, kita tahu bahwa mengenai tekanan sosial dan bagaimana ini bekerja. Program situasi kerja sosial mengenai bagaimana kita berpikir, merasakan dan bertindak diteliti oleh Sheriff (1935) dengan pengalamannya yang terkait dengan pengaruh autokinetik. Autokinetik berarti perpindahan peraturan diri, kecenderungan berpindah ketika pengamat dapat menyesuaikan posisinya.
Ini dapat dikatakan bahwa jika keputusan ambigu, tekanan sosial gagal dalam memberikan pengaruhnya. Beberapa tahun kemudian Acsh (1952a, 1952b, 1956) melakukan eksperiment inovatif yang mempunyai dampak terhadap penelitian dan teori mengenai pengaruh sosial. Asch membentuk situasi dimana subjek mengatakan tiga perbandingan yang sama dengan standar. Meskipun perbedaan sangat kecil, namun akan meningkatkan keambiguan tugas, Asch memilih untuk membuat tugas yang mudah dan tidak diragukan; ketika tugas tersebut ditunjukan sendiri, subjek tidak membuat kesalahan yang parah. Ini menciptakan kekuatan yang mempengaruhi tekanan sosial.
Dalam eksperimen tertentu, ada sebuah subjek tunggal, dan tiga di antaranya diterapkan; ini diumumkan satu per satu, keputusan yang salah. Bayangkan jika anda sendirian didalam ruangan dengan tujuh teman yang lain; ketika anda menunggu untuk melaporkan apa yang anda lihat, anda mendengar satu per satu orang untuk memberikan keputusan yang sama. Dengan kondisi dibawah keadaan ini, subjek tersebut membuat kesalahan lebih dari tiga kali secara langsung dihadapan kelompok tersebut.
Yang perlu diperhatikan adalah tidak untuk menyamakan pengaruh autokinetik Sherif dengan pengaruh penyesuaian sosial Asch. Dalam penelitian Sherif, ada beberapa alasan untuk meyakini bahwa persepsi subjek yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Dalam penelitian Asch, meskipun subjek sering berjalan bersama kelompok penguji, hanya sedikit bukti yang ada terkait dengan stimulus tersebut; contoh mereka merasa ragu dengan apa yang seharusnya mereka laporkan.
Selama beberapa tahun, sejumlah penelitian dilakukan untuk mengembangkan eksplorasi pioneer pengaruh sosial dan menempatkan pengaruh kondisi tersebut dalam penyesuaian dengan lingkungan yang ada. Berikut ini merupakan ringkasan hasil penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir: hasil tekanan kelompok yang terjadi terkait dengan keputusan yang ambigu, di ungkapkan dalam pernyataan opini atau dalam pernyataan kenyataan. Ini terjadi ketika jawaban yang diberikan kelompok tidak sesuai - sebagai contoh, tinggi orang itu 8 sampai 9 inci lebih tinggi daripada wanita atau bayi laki-laki mempunyai perkiraan hidup 25 tahun. Ini juga terjadi ketika subjek tidak dapat melihat yang lain dalam kelompok, jika diyakini bahwa mereka ada. seperti yang telah diperkairakan, tingkat penyesuaian dapat dikurangi, namun tidak dihilangkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Milgram (1965), yang dipandang sebagai analog regimasi kekuasaan seperti Nazi Jerman. Dalam penelitian ini, subjek mematuhi instruksi eksperimen untuk menyetrum orang lain bahkan jika korban ini menangis dan meminta orang tersebut untuk menghentikannya. Ini menunjukkan bahwa tekanan sosial dapat mendorong orang untuk menerima manifestasi tindakan keji (lihat juga Miller, 1986, dalam penelitian Milgram).
Selama beberapa periode, Newcomb (1943; Newcomb et al, 1967) juga melakukan observasi mengenai perubahan sikap politik sebagai bagian dari siswa di Bennington College. Beberapa orang yang lain melakukan observasi yang sama dengan perubahan sosial yang ada. dengan melakukan pengujian pada laporan pemerintaj mengenai proses keputusan kelompok, Janis (1972) mampu untuk menunjukkan kekuatan dan kerugian penyesuaian tekanan oleh penasehat bertanggung jawab dalam kesalahan kebijaksanaan seperti Invasi Bay of Pigs ke Kuba dan perang Indocina. Janis menyebutnya proses yang menghalangi kelompok untuk menyetujui kebijaksanaan kelompok.
Schachter menemukan bahwa ada tiga jenis hukuman yang dilakukan secara berbeda. Umumnya, kelompok menghukum seseorang yang melakukan penyimpangan. Pada permulaan diskusi, sebagai contoh, kelompok secara langsung melakukan percakapan secara langsung terhadap penyimpangan dan mengakui kesalahan, dalam usaha untuk mengubahnya.
Sebagai bagian dari pengalaman yang sama, masing-masing kelompokdiberitahu bahwa terdapat terlalu banyak anggota bila ingin mengadakan diskusi yang efektif si masa yang akan datang dan masing-masing anggota diminta untuk mengevaluasi setiap anggota lain untuk menentukan demokratisasi yang mungkin dikesampingkan dalam keanggotaan. Kelompok tersebut biasanya cenderung menilai penyimpangan sebagai tindakan yang tidak dapat ditoleransi daripada dua persekutuan, hal ini menyebabkan pengusiran dari kelompok tersebut. Dan ketika panitia yang mengatur membawa bisnis adminstrasi ke dalam kelompok, seperti menentukan topik untuk diskusi, mengumumkan waktu dan tempat pertemuan, dan apa yang disukai, orang yang menyimpang jarang dipilih sebagai orang penting yang mana memegang kekuasaan di tanganya, meskipun mereka seringkali dipilih untuk posisi yang tidak penting dimana hanya tenaga yang dibutuhkan. Penelitian menggaris bawahi bagaimana kelompok social menggunakan kekuasaan mereka untuk menjalankan prasangka kolektif mereka dengan menghukum seseorang yang tidak menurut, memberikan petunjuk tentang motivasi apa yang menyebabkan seseorang untuk menyesuaikan diri dan secara tidak langsung menyarankan kesulitan emosional dalam menahan tekanan untuk menyesuaikan diri.
Bagaimanpun juga, peranan emosi dan penanganannya lebih terlihat implicit daripada eksplisit dalam penelitian ini, karena perhatian para peneliti berpusat pada kondisi eksternal yang mempengaruhi penyesuaian diri dan ketidaksepakatan daripada pada usaha seseorang yang terjebak di tengah-tengah tekanan masyarakat (yang melibatkan emosi yang sangat kuat). Penelitian – penelitian pada pengaruh sosial sangatlah jarang bila berkaitan dengan emosi seperti kecemasan, rasa malu, rasa bersalah dan rasa marah yang biasanya terlibat dalam situasi ini dalam lingkup pengaruh sosial atau dengan proses penanganan yang harusnya merupakan kelebihan mereka. Hampir sama, satu alasan untuk ketidakpedulian ini adalah ketidakminatan psikologi untuk alsan yang epistimologis, dalam emosi dan kita melihat lagi contohnya keisengan dan fasion dalam ilmu pengetahuan.
Bayangkan subyek apa yang merasa dalam percobaan Asch pada penyesuaian diri. Duduk disana dan terlihat untuk memberikan satu jawaban namun juga melihat jawaban lain satu per satu dan kemudian memberikan jawaban lain, beberapa orang mungkin menjadi bingung: Äpa yang salah disini? Apakah aku salah mengerti apa yang sedang terjadi? Sedangkan yang lain berpura-pura menjadi sangat cemas dan malu seolah-olah scenario penyimpangan mereka terbongkar. Äku selalu terlihat bodoh” seseorang berkata pada diri mereka sendiri, Kenapa aku terlahir sangat bodoh? Tidak ada satu orangpun yang memperhatikanku jika aku bersikeras berkata apa yang kelihatan sepertiku. Aku akan pergi dengan kelompok agar tidak mempermalukan diriku sendiri dan melihat apakah aku dapat menebaknya.” Orang lain masih saja bisa marah: “Punya hak apa mereka menempatkanku pada situasi seperti ini? Ada apa dengan orang goblok ini?”dan bagaimana tentang penelitian Schacter tentang bagaimana kelompok menghukum para pelanggar? Kecemasan, rasa malu, rasa marah, iri, cemburu – semua emosi yang biasanya terjadi. Sejenak setelah ketidakjelasan dalam adanya usaha untuk mengukurnya adalah proses yang dikaitkan dengan pengendalian dalam ancaman sosial dan intrafisik dan kerusakan integritas subyek. Penelitian asli Asch merupakan sesuatu yang penting namun terbatas, pengecualian pada kurangnya perhatian dengan emosi yang terdapat pada keadaan dengan tekanan social dan bagaimana orang manangani konflik dan ancaman yang biasa terjadi ini. Asch (1952a, 1952b) dengan hati-hati mewawancarai subyeknya setelah eksperimen tersebut, interview yang menyimpulkan hipotesis yang subur terutama tentang proses penanganan. Ia mengkonfrontasi setiap subyek yang menghasilkan mengalah pada tekanan kelompok dengan performa mereka setelahnya dan dimintai keterangan.
Beberapa subyek bersedia mengakui bahwa mereka percaya pada peserta lain dan telah salah dalam penilaian mereka dan menjelaskan adanya konflik dan tekanan hebat tentang menjadi orang yang menyimpang. Untuk menghindari penyimpangan, mereka dengan jelas dan sadar memilih untuk bergabung dengan kelompok tersebut. Subyek lain juga dilaporkan mengalami tekanan namun berusaha berdamai dengan kesulitan dalam piikiran mereka dengan berasumsi bahwa mereka salah mengerti akan sesuatu. Dampaknya, mereka pergi bersama kelompok tersebut, berfikir bahwa mereka sendirilah yang salah. Akhirnya, sebuah bagian kecil dari subyek mengekspresikan keterkejutan dan kebingungan ketika diberitahu tentang kesalahan, diberitahu bahwa ia tidak bias mengingat pernah mengalami kesulitan dalam belajar dan menolak pengaruh dari kelompok tersebut.
Tigas proses penanganan yang berbeda disarankan oleh data-data interview ini: (1) Karena kelompok adalah agen yang sangat kuat, mampu mendisiplinkan seseorang, beberapa subyek merasa lebih aman ketika mereka menghindari sorotan pada mereka sebagai seorang yang menyimpang; (2) karena orang-orang perlu konfirmasi dengan orang lain tentang penilaian mereka tentang dunia, beberapa subyek melihat pada orang lain dan mengevaluasi kecukupan dalam pemikirannya dan pemahamannya sendiri dan kemudian merubah pendekatan mereka ketika mereka terlihat keluar jalur. (3) karena orang membutuhkan persetujuan dan penerimaaan dari orang lain, beberapa orang yang diperlakukan dengan tidak baik ketika persetujuan ini membahayakan penyesuaian diri yang secara otomatis tanpa menyadari apa yang mereka lakukan.
Ketiga proses yang terlibat ini dapat disimpulkan sebagai sebuah contoh konflik dan pertahanan tanpa kesadaran. Polanya seperti sepasang suami istri yang meminta perceraian, sangat mengejutkan dan terlihat tidak memperhatikan ada yang salah dengan pernikahannya. Sebuah interpretasi alternative adalah bahwa pada jenis ini seseorang tidak memperhatikan hal-hal sederhana pada bagaimana perasaan seseorang, mempunyai interpretasi yang salah terhadap apa yang terjadi, dan naïf tentang orang lain. Bagaimanapun juga, jika seseorang mengingat cara pertahanan histeris dapat dikatakan sebagai penindasan (atau penolakan), yang mengarahkan pada kenaifan yang berdasarkan pada penyempitan perhatian terhadap segala sesuatu yang mungkin mengantang, mempunyai dua interpretasi, naïf dan bersifat menolak, tidak akan menjadi hubungan yang eksklusif dan menguntungkan. Lebih lanjut lagi, apa yang kelihatan seperti penolakan mungkin semata-mata hanyalah sebuah cara otomatis dalam merasakan hal terkait dengan dunia, biasanya terjadi pada awal kehidupan dengan tidak mau melihat hal apa yang mengancam, daripada menjadi sebuah proses aktif dari penolakan atau penindasan (contohnya, penelitian Luborsky, Blinder & Schimek, 1965, pada kewaspadaan dan penghindaran).
Mendidik Emosi
Untuk kembali pada proses sosialisasi emosi, yang merupakan cara untuk mendeskripsikan isu utama saat ini, perhatian yang kecil diberikan pada usaha-usaha pendidikan untuk membentuk emosi, meskipun hal ini terlihat akan berubah. Contohnya, Pollak dan Thoits (1989) telah mendeskripsikan beberapa cara dimana para anggota staf sekolah terapi untuk gangguan pada anak 3-5 tahun mengkomunikasikan apa yang sesuai dan tidak sesuai secara emosiaonal. Penulis mengutip pendapat Harris dab Olthof (1982) bahwa terdapat tida kemungkinan anak berada pada keadaan emosi yang disadari, dan mereka dilabeli dengan istilah solipsistic, behaviorist dan sociocentrict. Solipsisticmengacu pada kesadaran diri sendiri dan observasi diri sendiri, behaviorist mengacu pada belajar dari reaksi emosi orang lain, sociocentric mengacu pada instruksi verbal formal dan informal pada komunitas. Anak harus belajar untuk menghubungkan kejadian-kejadian dalam situasi tertentu, gerakan-gerakan ekspresif dan sensasi internal.
Data Pollak dan Thoit menunjukkan bahwa anak-anak yang ia amati pada seting khusus diajarkan hati-hati tentang emosi oleh pelabelan dan dengan mengeksplisitkan bagaimana seharusnya mereka bereaksi dan mengapa. Instruksi terpadu diberikan oleh staff hanya ketika anak menyimpang dari norma-norma emosi, mengekspresikan perasaan yang tidak sesuai atau menunjukkan perasaan. Implikasinya adalah bahwa proses yang sama terjadi pada anak-anak tanpa gangguan emosi dalam kehidupan keluarga dan sekolah (lihat juga Bloom & Beckwith, 1989, yang meneliti tentang integrasi ekspresi afektif dan linguistic pada awal perkembangan bahasa).
Masalah dengan pemisahan antara arti yang didapat atau budaya dengan tekanan sosial pada seseorang dalam lingkup social seringkali sulit untuk dikatakan dan pada perluasan apakah mereka mendesak satu sama lain atau terjadi konflik. Contohnya, seperti apa yang aku katakana lebih awal, tidak jelas apakah kita harus menggolongkan peraturan perasaan Hochschild sebagai variable struktur social ataukah sebagai karakteristik budaya yang diinternalkan dan dioperasikan dalam transasksi seketika. Mereka dapat beroperasai dalam keduanya. Fungsi tumpang tindih pada pengaruh ini terkadang tidak jelas antara peraturan perasaan berdasarkan budaya atau perorangan dan hal itu muncul secara situasional keluar dari konteks struktur social.
Dengan mempertimbangkan hal ini, figur publik harus berdamai dengan kesedihan atau tekanan-tekanan lain dalam kehidupan pribadi. Ketika saya mengunjungi Australia beberapa tahun yang lalu, saya memasuki lingkup politik yang mempesona yang berpusat pada Bob Hawk yang kemudian menjadi kandidat untuk menjadi Perdana Menteri untuk pertama kalinya. Dalam sebuah interview televise, ia ditanyai tentang anak perempuan tirinya, yang sedang berusaha keluar dari ketergantungan narkoba pada waktu itu dan dalam interview tersebut Hawk meneteskan air mata. Terdapat banyak spekulasi di masyarakat apakah penunjukkan tekanan emosi ini akan merusak pengandidatannya atau tidak. Apakah hal seperti ini menunjukkan ia sebagai laki-laki yang lemah diantara masyarakat yang macho?
Hal ini terjawab setelah Hawk terpilih beberapa kali, penunjukkan emosi tidak merusak karir politiknya tetapi malah membantu karirnya dalam berpolitik. Di sisi lain, beberapa pembaca mungkin menginat kehancuran aspirasi presidensial Edmund Muskie pada pemilihan umum di Amerika Serikat dimana ia menangis dalam sebuah siaran. Kedua episode ini mengungkapkan kuatnya tekanan sosial pada public figure namun kita akan mengerti persamaan dan perbedaan dengan lebih baik jika kondisi yang beroperasi pada mereka juga didokumentasikan.
Mungkin emosi yang paling terasa pada public figure adalah mereka harus melakukan kesulitan khusus, diberikan tekanan biologis yang tertera dalam ekspresi wajah terhapa emosi yang dirasakan; mengembalikan atau menghentikan emosi tersebut dibutuhkan banyak usaha. Seringkali ekspresi wajah terbentuk oleh strukstur neurofisiologi seperti yang dipelajari oleh badan komunikasi sosial. Contohnya, Lanzetta (Englis, Vaughn, & Lanzetta, 1982; Lanzetta & Orr, 1980, 1981, 1986; Orr & Lanzetta, 1980, 1984), menunjukkan bahwa sangatlah sulit mengubah kondisi negative ke raut muka gembira dan respon relaksasi ke muka ketakutan. Hal ini mungkin juga dipertimbangkan sebagai sebuah contoh tentan apa yang diacu sekarang ini yang disebut sebagai “persiapan kondisi” yang saya bahas secara singkat di bab 8 kaitannya dengan kasus dimana beberapa ketakutan dapat dikondisikan mungkin dikarenakan oleh seseorang yang berpembawaan halus dan pengaruh psilogenetis.
Dari pandangan politik apakah kita boleh menangis dan berteriak atau pengesampingan pengendalian emosi, seperti yang terlihat dalam pemakaman? Seperti public figure, seperti apakah Jackie Kennedy harus bersikap dalam pemakaman suaminya presiden Kennedy, setelah pembunuhannya? Seberapa besar kesedihan yang harus ia tunjukkan? Seberapa besar kesedihan yang sebenarnya ia rasakan? Seberapa besar tekanan yang ia rasakan? Terdapat perbedaan kelas sosial dan budaya dalam hal ini, begutu juga situasi sosial yang diminta oleh orang lain. Bagaimana tentang pramugari pesawat yang sebenarnya merasa ketakutan namun harus tetap terlihat ceria dan ramah?
Kita juga harus mengingat juga bahwa kita tidak bersikap pasif dalam menggabungkan peraturan dan nilai-nilai sosial dan memasukkan mereka ke dalam diri kita sejalan dengan perkembangan diri kita. Gambaran osmosis yaitu penerima secara pasif pada hal-hal di sekitarnya mempunyai ketidak tertarikan pada selektivitas yang mana anak-anak yang meniru orang tuanya, memilih peran dan pola bersikap pada basis bagaimana pelayanan yang harusnya mereka berikan pada anak (contohnya, Banduru, Riss & Ross, 1963).
Implikasinya adalah kita memasuki lingkup transaksi sosial sebagai seseorang dengan arti dan nilai-nilai yang didapat, dan mengkonfrontasi persyaratan dari situasi sosial yang menekan kita dalam satu jalan atau jalan yang lainnya. Terkadang peraturan perasaan dan nilai-nilai budaya internal menekan seseorang pada jalan yang sama dan terkadang dalam cara yang berlawanan. Penilaian hasil dan proses penanganan, dan emosi yang naik akan tergantung pada pengaruh kedua variable.
Sebuah masalah dengan analisa ini adalah kesulitan dalam membedakan yang saya buat sebelumnya antara ekspresi emosionla dan pengalaman emosional. Kita dapat mengamati ekspresi, namun lebih sulit untuk masuk kedalam pikiran seseorang untuk mengetahui pengalaman tersebut. Pengaruh sosial kemungkinan mempengaruhi keduanya, meskipun kita hanya dapat mengetahui pengalaman dengan menarik kesimpulan dari apa yang diekspresikan, dilaporkan dan diamati. Salah satu pertanyaan yang paling sulit bagi siapa yang tertarik pada peraturan perasaan, contohnya, adalah pada perluasan apakah perasaan yang sebenarnya yang berkebalikan dengan emosi yang ditunjukkan, dapat dipengaruhi dan dirubah. Psikoterapis dibutuhkan untuk mengganti disfungsi dan proses menurunkan emosi ketika ketika hal ini kambuh lagi dengan sering. Untuk menunjukkan genggaman yang baik pada prinsip yang terlibat dalam proses emosi dan perkembangannya, teori emosi harus mencakup beberapa ekspresi emosi yang dapat dilunakkan dan beberapa pengalaman.
Untuk memahami apa yang terjadi pada emosi dalam lingkup sosial, seseorang harus menanamkan dalam pikiran bahwa masing-masing partisipan bereaksi untuk mengisyaratkan atau menandakan kepada orang lain bahwa indikasi yang diberikan tentang bagaimana sesuatu berlangsung dari sudut pandang agenda pribadi seseorang. Ketika ada sesuatu yang dipertaruhkan dalam lingkup tersebut, penilaian terhadap serangkaian isyarat ini membentuk pergerakan kompleks dalam kegiatan kognitif, emosional dan pengendalian yang merupakan bagian dari proses emosi.
Usaha Kemper (1978) untuk menggunakan variasi dalam dua jenis hubungan sosial, status dan kekuasaan seperti penjelasan terhadap sejumlah emosi yang menggambarkan bagaiman hal ini dapat berfungsi. Meskipun definisinya cenderung idiosinkratis dari sudut pandang sosiologi tradisional, ia mendefinisikan status sebagai sesuatu yang diberi dan diterima oleh seseorang secara suka rela dan tanpa tekanan dari orang lain; kekuasaan dalam kebalikannya, dapat memaksa orang lain untuk melakukan kemauan seseorang. Seseorang dapat mempunyai kekuasaan yang kuat dan merasa aman dan mempunyai potensi; kekuasaan yang terlalu besar dan merasa bersalah atau status kekuasaan yang tidak memadai dan merasa cemas dan ketakutan. Seseorang juga dapat mempunyai kekuasaan yang berlebihan dan merasa malu atau kurangnya status dan merasa sedih, marah atau depresi. Memberi seseorang kurang dari apa yang pantas is terima dapat menimbulkan rasa bersalah dan malu; merasa bersalah karena seseorang telah melukai orang lain dan merasa malu karena kelebihan kekuasaan terhadap orang lain yang cenderung meniadakan kejujuran, kesopanan dan keadilan. Pada tinjauan dan analisis lebih lanjut pada penelitian dan teori pada asal-usul dan sosialisasi perasaan bersalah, saya merekomendasikan bab yang sangat baru dari Zahn-Waxler dan kochanska (1990).
Jika kita mengadopsi focus pada filogenetis, kita melihat bahwa etologis, psiokologis perbandingan dan sosial psikologis telah lama menyadari nilai-nilai komunikasi pada kondisi ekonomi seperti yang terungkap pada instrument aksi dan ekspresi (Frick, 1985; Heider, 1958; Marler, 1984). Psikologis perkembangan juga menyadari bahwa komunikasi emosi melalui ekspresi wajah ibu dan pada gilirannya, komunikasi oleh bayi atau anak kecil pada ibunya (Campos, Barett, Lamb, Goldsmith, & Stenberg, 1983; Dunn, 1988; Lewis & Michalson, 1983; Sroufe, Schork, Motti, Lawroski, & LaFreniere, 1984; dan Trevarthen, 1984). Bagaimana sinyal emosi dinilai berdasarkan pada peraturan untuk pertukaran sosial begitu pula pada dasar kebudayaan atau turun-temurun, secara universal arti dari gerak tubuh atau ekspresi lainnya. Peranan sifat keturunan biologis lebih jelas dan lebih mudah untuk dilihat dalam makhluk sederhana dan tidak terlalu dapat diaplikasikan pada manusia.
Struktur dan Penilaian Sosial
Budaya dan struktur sosial berinteraksi dalam cara yang kompleks, bagaimanapun juga, keduanya berjalan dalam satu ruang lingkup dan terkdang berjalan dalam konflik. Struktur sosial seperti nilai-nilai dan arti budaya dapat diinternalkan sehingga dapat menjadi karakter seseorang. Analisa seperti ini dapat membuat hal ini menjadi bebas dan bersih dari ketidakjelasan. Contohnya, karena transaksi adaptasi yang tidak terungkapkan, pola pengaruh sosial pada penilaian, dan akumulasi emosi yang dialami pada diri seseorang selama memasuki ruang lingkup sosial dan setelah berada dalam lingkup sosial. Maka dari itu, pendatang baru mungkin menganalisa ruang lingkup yang serupa di masa lampau pada masing-masing perorangan dan pada masing-masing pasangan. Sejarah ini sendiri mengajarkan masing-masing perorangan sesuatu yang dapat mempengaruhi pola penilaian dan penanganan. Meskipun perpaduan dari berbagai variable berubah secara berkelanjutan, hal ini secara konstan merevisi implikasi criteria ‘menjadi baik’dan kemudian akan merubah pengalaman emosi dan emosi yang ditunjukkan yang dialami oleh seseorang yang sama dapat menciptakan struktur tujuan, harapan, dan strategi penanganan emosi yang akan menciptakan pola stabil dalam jangka waktu yang lama di waktu kapanpun hal yang sama terjadi lagi.
Maka dari itu, latar belakang dari setiap transaksi, selalu ada tiga kekuatan utama yaitu: (1) arti budaya yang membentuk motif, kepercayaan dan memahami seseorang tentang apa yang terjadi (2) tekanan sosial yang bertubi-tubi, yang dikomunikasikan oleh perilaku dramatis dalam ruang lingkup yang tidak terungkapkan. (3) sebuah sejarah masa lampau yang sejenis atau terkait dengan ruang lingkup yang telah diajarkan oleh kepala masyarakat dimana struktur sosial berpengaruh pada emosi dimana peran sosial dan status seseorang terikat pada transaksi sementara dalam ruang lingkup kehidupan sosial.
Kesimpulan
Bab ini melihat pada perkembangan emosional dari sebuah sudut pandang sosiobudaya. Aturan sosial yang mengatur perilaku manusia dan kehidupan emosional kita kesemuanya merupakan sesuatu yang sangat kompleks dan berlangsung dengan halus pada hal yang pokok. Sebuah permasalahan utama dalam ilmu pengetahuan adalah untuk menghubungkan tingkat analisis makro pada system sosial dengan tingkat mikro pada pribadi perorangan dan untuk mengatakan bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain. Masyarakat mempengaruhi emosi dengan mempengaruhi variable proses yang terlibat didalam hasil seperti perilaku dan ekspresi dan input seperti perasaan dan peraturan penunjukkan perasaan, nilai-nilai pernyataan, dan proses yang sedang berlangsung seperti penilaian dan penanganan.
Terdapat dua bentuk utama dari pengaruh sosial: budaya dimana kita tinggal dan struktur sosial. Budaya memberikan arti yang diinternalkan dan sosial struktur memberikan permintaan, ketidakleluasaan, dan sumber yang beroperasi di setiap transaksi penyesuaian diri. Sebuah bagian yang bagus dari pembahasan yang berfokus pada cara berfikir tentang budaya dan konsekuensinya terhadap emosi begitu pula dengan contoh pengaruh ini. Pengaruh budaya dikaitkan dengan 6 komponen penilaian yang membentuk teori inti dalam analisis saya.
Sejumlah besar perhatian diberikan pada gagasan penelitian dalam hal struktur sosial berdampak pad emosi, termasuk penelitian psikologis klasik dalam penyesuaian diri dengan tekanan sosial. Struktur sosial dikaitkan dengan keenam komponen pada system teori.
Terdapat sedikit penelitian yang secara eksplisit pada sosialisasi emosi, dan kita perlu untuk tahu lebih banyak tentang bagaimana model pengajaran orang dewasa dan bagaimana harus merasa dan apa dan bagaimana untuk mengekspresikan emosi dalam konteks sosial. Contoh bagaimana hal ini diberikan, termasuk memberikan komunikasi emosi dengan hati-hati oleh para orang tua.
Saya juga menunjuk pada pemisahan antara pengaruh kebudayaan dan struktur sosial yang samar, karena secara tipikal mereka berjalan dalam transaksi sosial yang sama. Dalam beberapa kasus, dalam setiap transaksi terdapat beberapa arti budaya, tekanan sosial, dan sejarah masa lampau pada lingkup sejenis yang kesemuanya harus dipahami untuk memahami pengaruh sosiobudaya pada proses emosi.

Dari IMMawan Septian Adhi N
Selengkapnya...